Destinasi wisata alam masih tetap menjadi pilihan favorit bagi para wisatawan dalam menikmati liburan mereka. Namun, tidak jarang destinasi alam yang populer di media sosial akhirnya kehilangan kunjungan ketika hype-nya mulai reda. Menurut peneliti lanskap Yogyakarta, Agus Setyarso, sebuah destinasi wisata alam perlu lebih dari sekadar keindahan fisiknya untuk tetap diminati di era digital ini.
Menurutnya, destinasi wisata harus mampu memberikan tantangan dan pengalaman petualangan yang menarik bagi pengunjungnya. Studi yang dilakukan di sejumlah destinasi di Yogyakarta dan Jawa Tengah menunjukkan bahwa kunjungan wisata akan menurun ketika destinasi tersebut kehilangan unsur tantangan. Pengalaman petualangan seperti hiking di pegunungan atau menjelajah hutan merupakan hal yang dapat menarik pengunjung.
Selain tantangan, branding juga menjadi faktor penting dalam menarik wisatawan. Destinasi wisata perlu memiliki branding yang jelas dan menargetkan pasar yang spesifik. Agus mencontohkan obyek wisata di Kabupaten Kulon Progo yang menarik namun kurang dikenal karena kurangnya branding yang kuat. Hal ini menunjukkan pentingnya promosi yang menarik untuk menarik minat pengunjung.
Selain keindahan alam, Yogyakarta juga memiliki potensi wisata lain yang menarik, seperti melihat kehidupan masyarakat setempat. Misalnya, di Kabupaten Gunungkidul, pengunjung dapat belajar tentang bagaimana masyarakat pesisir bertahan hidup dengan sumber air yang terbatas. Hal ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin belajar lebih dalam tentang budaya setempat.
Di wilayah Ungaran dan Temanggung Jawa Tengah, terdapat potensi wisata agrowisata dan agroforestri yang belum dimanfaatkan sepenuhnya. Agus berencana untuk melibatkan generasi Z dan Alpha dalam forum edukasi untuk menggali potensi hutan di daerah tersebut. Dengan demikian, destinasi wisata dapat terus dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan minat wisatawan dari waktu ke waktu.

