Kota Changwon di Jakarta Selatan sedang membangun menara observatorium yang diharapkan dapat menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. Proyek bernama Big Tree ini menelan biaya sebesar 403 miliar rupiah, namun publik merasa kecewa dengan hasil akhirnya. Inspirasi awal proyek ini berasal dari Super Tree di Gardens by the Bay, Singapura, yang merupakan destinasi populer karena desain futuristiknya yang memadukan ekologi kota. Meskipun demikian, Big Tree yang dibangun di atas lahan seluas 1.257 meter persegi ini memiliki ketinggian yang lebih pendek dari yang diharapkan, menjadikan beberapa elemen dekoratifnya dianggap terlalu buatan oleh sebagian besar orang.
Warga setempat bahkan memberikan sebutan “demotri” dan “drumphon” untuk proyek Big Tree ini. Proses pembangunan juga mengalami perubahan desain di tengah jalan, termasuk pembatalan rencana pembangunan menara pusat dan struktur pohon buatan yang tidak jadi dibangun. Meski demikian, pemerintah setempat tetap berencana untuk membuka Big Tree untuk publik pada Oktober 2025, dengan harapan dapat menampung pendapat warga dan memperbaiki kesalahan yang ada.
Dalam waktu satu tahun ke depan, struktur Big Tree akan mendapatkan desain ulang melalui kompetisi nasional dan konsultasi dengan warga setempat. Proses konstruksi baru diharapkan dapat dimulai pada paruh kedua tahun 2026. Walikota Pelaksana Changwon, Jang Geum-yong, berharap dengan melibatkan masyarakat dalam proses ini, Big Tree dapat menjadi landmark yang benar-benar mencerminkan keinginan dan kebutuhan publik.

