Pura Pakualaman Yogyakarta: Pelestarian Naskah Kuno Melalui Alih Wahana
Pelestarian dan pemanfaatan naskah kuno tidaklah mudah karena kondisi fisik yang rapuh akibat usia yang tua. Naskah-naskah kuno ini seringkali ditorehkan di wahana seperti daun lontar, kulit kayu, dan kertas. Namun, Pura Pakualaman Yogyakarta menunjukkan cara yang unik dalam menjaga naskah-naskah kuno ini. Mereka tidak hanya melakukan perawatan tradisional, tetapi juga melakukan penyelamatan teks naskah melalui digitalisasi setelah naskah-naskah tersebut diinventarisasi dan dikatalogisasi.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pura Pakualaman Yogyakarta adalah melakukan alih wahana sebagai bentuk pelestarian dan pengenalan naskah kuno kepada generasi saat ini. Proses alih wahana ini merujuk pada pengalihan media pada naskah kuno ke dalam berbagai motif batik. Dalam proses tersebut, gambar-gambar iluminasi dan pesan yang terkandung dalam teks naskah kuno tersebut dikaji bersama dengan ahli dan akhirnya diinterpretasikan ulang sebelum dialihmediakan ke dalam motif batik. Hal ini dilakukan agar isi dari naskah kuno tersebut dapat lebih mudah dipahami oleh generasi saat ini dan masa depan.
Beberapa naskah kuno di Pura Pakualaman yang berhasil dikaji maknanya dan dialihwahanakan ke motif batik antara lain Seri Asthabrata, Seri Pepadan, Seri Piwulang Astri, dan Seri Nges Ruming Puri. Selain itu, Pura Pakualaman juga menciptakan motif batik Indra Widagda berdasarkan teks Batara Indra pada naskah kuno Sestradisuhul yang berisi ajaran ilmu pengetahuan. Setiap lembar kain Batik Pakualaman diberi nama sesuai dengan teks dan renggan pada naskah yang diacu sebagai upaya agar pesan di dalamnya dapat tersampaikan kepada khalayak.
Dalam kegiatan pengelolaan dan pelestarian naskah kuno, Pura Pakualaman Yogyakarta selalu melibatkan para ahli yang sesuai dengan bidangnya. Mereka percaya bahwa setiap kegiatan pelestarian harus dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur untuk memastikan hasilnya berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Selain alih wahana, Pura Pakualaman juga melakukan kegiatan bedah naskah kuno, alih aksara, alih bahasa, kajian, pameran, dan pembuatan replika sebagai upaya pelestarian.

