Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan kesediaannya untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung Senin lalu. Pertemuan tersebut melibatkan Lee Jae-myung, Presiden Korea Selatan yang baru terpilih, yang meminta bantuan Trump dalam memajukan perdamaian antara kedua Korea. Lee mengakui bahwa situasi semakin stabil selama masa jabatan pertama Trump dan berharap Trump dapat membantu mewujudkan perdamaian di Semenanjung Korea serta bertemu dengan Kim Jong-un.
Lee siap mendukung peran Trump sebagai juru damai antara kedua Korea dan percaya bahwa Trump adalah orang yang tepat untuk menyelesaikan ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Namun, meskipun Trump mengatakan bahwa dia bersedia bertemu dengan Kim, masih sulit untuk memastikan apakah pertemuan tersebut benar-benar akan terjadi. Hal ini karena Korea Utara baru-baru ini meluncurkan rudal pertahanan udara baru selama latihan militer bersama AS dan Korea Selatan.
Peningkatan jumlah senjata nuklir Korea Utara menjadi perhatian utama, terutama setelah pernyataan Lee bahwa negara tersebut mampu memproduksi 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun. Lee juga memperingatkan bahwa Korea Utara sedang dalam tahap terakhir pengembangan rudal balistik antarbenua yang dapat menjangkau jarak jauh. Perkembangan ini semakin memperparah situasi, terutama dengan dukungan yang semakin erat antara Korea Utara dan Rusia.
Meskipun Trump dan Kim sebelumnya pernah bertemu dan meredakan ketegangan antara keduanya, pertemuan tersebut gagal memberikan terobosan signifikan dalam negosiasi denuklirisasi. Pasca-pertemuan, Korea Utara lebih memilih untuk menghindari kembali berinteraksi dengan AS dan justru memulai kembali uji coba senjata nuklir. Pertemuan antara Lee dan Trump merupakan ujian bagi hubungan Korea Selatan dengan AS, terutama di tengah tekanan kebijakan “America First” yang diterapkan oleh Trump. Lee berusaha menjalin hubungan dagang dan investasi yang kuat dengan AS, dengan beberapa perusahaan Korea Selatan mengumumkan investasi besar selama kunjungan mereka ke AS. Korean Air dan Hyundai Motor Group, sebagai contoh, telah mengumumkan rencana investasi besar di Amerika Serikat yang bernilai miliaran dolar. Hal ini mengindikasikan upaya Korea Selatan dalam memperkuat hubungan ekonomi mereka dengan AS.

