Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat peningkatan okupansi perhotelan selama aksi unjuk rasa marak di berbagai daerah pada akhir Agustus hingga awal September 2025. Meskipun masih dalam periode low season, okupansi hotel melonjak hingga mencapai rata-rata 40 persen. Hal ini mengejutkan mengingat kondisi DIY sendiri juga sedang dilanda aksi massa.
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengungkapkan bahwa okupansi hotel meningkat karena Yogyakarta dinilai relatif aman meskipun terjadi banyak aksi demonstrasi. Informasi yang didapat dari pengunjung luar DIY mengindikasikan bahwa mereka merasa Yogyakarta aman saat aksi demo berlangsung ricuh di Markas Polda DIY pada akhir Agustus. Keberanian Sultan HB X yang mampu menenangkan massa saat mendatangi markas Polda DIY yang hancur dan terbakar juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Tak hanya itu, suasana aman di Yogyakarta juga didukung oleh sikap demonstran yang tidak menyentuh obyek lain di sekitarnya selama aksi berlangsung. Peningkatan okupansi terjadi karena wisatawan dari berbagai daerah, terutama yang masih dilanda aksi demo, memilih menginap di Yogyakarta bersama keluarga atau sendiri untuk merasa lebih aman. Prediksi PHRI DIY menyebutkan bahwa okupansi hotel di Yogyakarta akan terus meningkat menjelang akhir pekan, terutama dengan adanya perhelatan Hajad Dalem Sekaten yang di dalamnya ada tradisi Grebeg, yang diyakini dapat menarik lebih banyak wisatawan.
Meskipun sejumlah negara telah mengeluarkan travel warning terkait situasi demonstrasi di Indonesia, wisatawan mancanegara tetap banyak yang berkunjung dan menginap di Yogyakarta karena merasa aman. Hal ini memberikan dampak positif bagi industri perhotelan di DIY.

