Sunday, April 19, 2026
HomeLainnyaIndonesia Harus Siap Hadapi Operasi Informasi Global

Indonesia Harus Siap Hadapi Operasi Informasi Global

Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar pada karakter ancaman terhadap negara. Kini, bukan hanya serangan fisik yang perlu diwaspadai, melainkan juga serangan di ranah maya yang semakin canggih dan sulit dikenali. Ancaman digital ini bisa merusak ketahanan nasional melalui rekayasa informasi, yang dampaknya bisa luas tanpa perlu bentrokan fisik. Pengalaman beberapa tahun terakhir di Eropa Timur membuktikan bahwa ancaman siber sangat nyata dan mampu mengubah arah politik sebuah negara.

Contohnya, pemilu presiden Romania tahun 2024 menjadi peringatan keras. Seorang kandidat, Calin Georgescu, yang sebelumnya tidak menonjol, mendadak memperoleh dukungan besar lewat strategi digital yang terencana matang. Ribuan akun palsu aktif menyebar narasi yang menyentuh emosi masyarakat, seperti soal nasionalisme, agama, dan isu anti-Barat. Informasi-informasi tersebut terus digencarkan melalui berbagai platform media sosial, seperti Facebook, TikTok, dan Telegram. Media internasional, terutama RT dan Sputnik, turut mengangkat narasi ini, sehingga terkesan berasal dari berbagai sumber yang kredibel. Namun di balik semua itu, aktor-aktor lokal memainkan peranan penting dalam mengembangkan materi kampanye digitalnya, disertai jalinan kerja sama dengan pihak asing.

Penelusuran mendalam menemukan keterlibatan influencer, lembaga periklanan, serta jaringan luar negeri berbasis di kota-kota besar seperti London. Kolaborasi antara pihak domestik dan eksternal menciptakan pola propaganda digital yang sistematis sehingga sulit dipetakan siapa aktor utamanya. Fenomena manipulasi politik berbasis teknologi inilah yang kini menjadi tantangan nyata bagi keamanan dan kedaulatan negara.

Menurut Broto Wardoyo, yang menjabat sebagai dosen dan Ketua Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, penyamaran aktor-aktor siber semakin mempersulit pembedaan antara ancaman yang berasal dari luar dan dalam negeri. Kolaborasi antara elemen asing dan lokal kerap terjadi, sehingga benang batas kedua jenis ancaman tersebut amat samar. Dalam diskusinya pada Selasa, 23 September 2025, beliau menegaskan bahwa kehadiran serangan maya asing tak bisa dipandang sebelah mata dan keberhasilannya seringkali juga melibatkan tangan-tangan di dalam negeri.

Broto juga mengingatkan bahwa ancaman ini harus dijadikan perhatian utama, terutama di negara demokrasi seperti Indonesia. Manuver informasi siber bisa mengguncang sistem politik nasional bukan lewat kekuatan militer, melainkan lewat penggeseran persepsi publik, polarisasi masyarakat, bahkan meruntuhkan kepercayaan atas hasil pemilu. Dalam pola ini, satu kelompok masyarakat bisa diadu dengan kelompok lain, melemahkan kebersamaan dan membuka celah bagi intervensi lanjutan.

Indonesia sendiri sangat rentan terhadap pola serangan siber semacam ini. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan komunikasi politik yang makin banyak berlangsung di media sosial, narasi asing sangat mungkin bertemu kepentingan aktor lokal. Polarisasi yang telah tumbuh dalam beberapa tahun terakhir bisa makin membesar ketika aktor luar negeri memanfaatkan para influencer, bot, serta anggaran iklan digital untuk memperkuat narasinya. Dalam situasi serba cepat seperti saat ini, masyarakat Indonesia jadi lebih sulit membedakan mana isu murni internal, dan mana isu yang sudah dipolitisasi pihak luar.

Oleh karena itu, peristiwa di Romania patut menjadi pelajaran konkret, bukannya dianggap jauh dari kenyataan Indonesia. Negara dengan sistem demokrasi yang kokoh seperti Romania pun bisa tergoncang oleh manipulasi digital. Artinya, Indonesia pun seharusnya menyadari bahwa risiko serupa bisa saja terjadi kapan saja.

Upaya memperkuat daya tahan siber nasional tidak bisa dikesampingkan. Literasi digital bagi rakyat Indonesia sangat penting untuk mencegah jatuhnya bangsa dalam pengaruh pihak asing yang sengaja menggiring opini demi tujuan politik tertentu. Kewaspadaan dan kerja sama antara negara, institusi, serta masyarakat perlu terus dibangun sebagai fondasi utama perlindungan ruang digital bangsa.

Sumber: Ancaman Siber Global Dan Ketahanan Siber Indonesia: Belajar Dari Kasus Pemilu Romania
Sumber: Ancaman Siber Global: Pelajaran Dari Kasus Pemilu Romania Bagi Ketahanan Siber Indonesia

RELATED ARTICLES

Terpopuler