Generasi Z semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai aspek kehidupan mereka, mulai dari mengerjakan tugas kuliah hingga sekadar berbincang. Hasil survei APJII pada 2025 menunjukkan bahwa generasi Z memanfaatkan AI lebih banyak dibanding generasi lain, dengan persentase mencapai 43,7%. Hal ini menandakan bahwa AI telah menjadi bagian penting bagi generasi muda di Indonesia. Namun, walaupun memberikan kemudahan, penggunaan AI secara luas juga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya.
Menurut Prof Ridi Ferdiana, penggunaan AI meningkat di kalangan generasi muda merupakan hal yang tidak terhindarkan mengingat mereka tumbuh di era digital. Generasi Z, yang sudah terbiasa dengan teknologi sejak kecil, kini dihadapkan pada disrupsi yang dibawa oleh generative AI. Hal ini mempengaruhi cara berpikir dan hidup generasi muda tersebut secara signifikan. Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa penggunaan AI di kalangan generasi Z dan milenial akan terus meningkat, dengan perkiraan mencapai 77% dalam beberapa tahun ke depan.
Penggunaan AI, menurut Prof Ridi, tidak hanya memiliki dampak negatif, tetapi juga memberikan perubahan positif dalam cara belajar dan mengembangkan kreativitas generasi muda. Teknologi generative AI, seperti Gemini AI, membantu dalam memahami konsep dan melakukan analisis lebih mendalam daripada sekadar memberikan jawaban instan. Dengan adanya fitur guided learning, generasi muda dapat belajar lebih efektif dan terarah, meningkatkan pemahaman mereka secara keseluruhan.

