Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa hewan di seluruh dunia semakin banyak menderita penyakit kronis yang sebelumnya hanya ditemukan pada manusia. Berbagai jenis hewan, termasuk peliharaan, ternak, dan satwa laut, mulai mengalami masalah kesehatan serius seperti kanker, obesitas, diabetes, dan penyakit degeneratif pada sendi. Penelitian ini menegaskan bahwa kenaikan kasus penyakit kronis pada hewan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan, termasuk pola makan yang buruk, aktivitas fisik yang terbatas, dan stres jangka panjang.
Contoh kasus yang ditemukan dalam penelitian ini adalah kelebihan berat badan pada kucing dan anjing peliharaan yang menyebabkan peningkatan kasus diabetes, peradangan sendi pada babi peternakan intensif, kanker saluran pencernaan pada paus beluga, serta sindrom kardiomiopati pada salmon Atlantik budidaya. Bahkan, satwa liar yang hidup di lingkungan tercemar juga menunjukkan tingkat penyakit yang meningkat, seperti tumor hati pada tingkat 15–25 persen.
Studi ini juga mengungkapkan bahwa perubahan lingkungan yang dipicu oleh aktivitas manusia semakin memperburuk risiko terhadap kesehatan hewan, seperti pemanasan global, urbanisasi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hal ini turut berdampak pada peningkatan kasus obesitas, diabetes, dan gangguan imun pada hewan peliharaan di daerah perkotaan. Kurangnya sistem deteksi dini membuat penyakit kronis pada hewan terlambat terdeteksi.
Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini mengusulkan model penilaian risiko baru yang menggabungkan pendekatan One Health dan Ecohealth, dua kerangka yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Hal ini menuntut perlunya penelitian lebih komprehensif dan peningkatan pengawasan dalam kesehatan hewan untuk memahami dan mengatasi masalah tersebut. Dengan demikian, dapat diharapkan upaya yang lebih efektif dalam menjaga kesehatan hewan serta lingkungan secara keseluruhan.

