Harga Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam pada 18 November 2025, diperdagangkan di bawah level penting yang mengindikasikan sentimen pasar yang berhati-hati di tengah tekanan makroekonomi global. Aset kripto terbesar ini saat ini berada pada titik terendah dalam beberapa bulan terakhir, turun di bawah USD 90.000 atau sekitar Rp 1,5 miliar. Hal ini menandai penurunan minat investor terhadap risiko di pasar keuangan.
Menurut laporan dari Yahoo Finance, harga Bitcoin telah turun hampir 30% dari puncaknya di atas USD 126.000 atau sekitar Rp 2,11 miliar pada bulan Oktober. Pada sesi perdagangan Selasa, harga Bitcoin diperdagangkan turun 2% menjadi USD 89.953 atau sekitar Rp 1,5 miliar, setelah menembus level support sekitar USD 98.000 pekan sebelumnya.
Para pelaku pasar menyatakan bahwa keraguan mengenai pemangkasan suku bunga di AS dan sentimen pasar yang goyah setelah reli panjang telah menyebabkan tekanan pada harga kripto. Sejumlah perusahaan dan institusi yang sebelumnya masuk selama reli, kini keluar dari posisi mereka, memperparah risiko di pasar. Hal ini juga memicu penurunan saham terkait kripto dan perusahaan seperti Strategy, Riot Platforms, Mara Holdings, dan Coinbase.
Pasar saham melemah di seluruh Asia pada perdagangan Selasa, dengan tekanan khusus pada saham teknologi di Jepang dan Korea Selatan. Kepercayaan pasar terus terkikis dengan cepat ketika dukungan menipis dan ketidakpastian makroekonomi meningkat. Penurunan harga Bitcoin mencerminkan berbagai faktor yang mempengaruhi pasar kripto saat ini.

