Indonesia, sebagai negara yang terletak di jalur Cincin Api Pasifik, sering kali menghadapi dinamika alam yang menantang. Dari gempa bumi hingga tsunami, dan gunung meletus hingga tanah longsor, negara ini selalu berada dalam ancaman bencana alam yang serius. Hal ini mengharuskan pendekatan pembangunan yang memperhatikan kerentanan terhadap bencana. Pada akhir November 2025, bencana melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menelan lebih dari 1.000 korban jiwa dan menimbulkan kerusakan yang parah. Bencana ini tidak hanya berdampak pada infrastruktur, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan, terutama sekolah.
Ratusan ribu anak kehilangan akses normal ke fasilitas belajar akibat bencana tersebut. Tragedi ini menjadi pengingat akan kerapuhan sistem pendidikan dalam menghadapi bencana alam. Namun, pertanyaannya kini bukan hanya sebatas memulihkan bangunan fisik sekolah, melainkan lebih pada bagaimana membangun sistem pendidikan yang kokoh, mampu bertahan dan beradaptasi dengan situasi darurat.
Bencana alam mengajarkan banyak hal yang tidak tercantum dalam kurikulum sekolah. Anak-anak belajar tentang kesabaran, solidaritas, dan ketahanan melalui pengalaman hidup yang pahit. Guru-guru juga belajar untuk memberikan dukungan psikologis kepada siswa dan memprioritaskan keamanan mental mereka. Sayangnya, sistem pendidikan belum sepenuhnya siap untuk menghadapi realitas ini.
Meskipun begitu, beberapa praktik baik telah muncul dari sekolah-sekolah yang terpilih di daerah rawan bencana. Contohnya, Sekolah Sukma Bangsa di Aceh, yang mengintegrasikan pemahaman akan risiko lingkungan, simulasi evakuasi, nilai empati, dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ketangguhan bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga budaya dan nilai yang terinternalisasi dalam komunitas sekolah.
Dari refleksi atas bencana tersebut, langkah-langkah kebijakan strategis harus dilakukan. Mulai dari integrasi pendidikan kebencanaan dalam kurikulum nasional hingga memberikan keleluasaan pada guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi psikososial siswa. Penguatan sekolah sebagai pusat pemulihan, pelibatan komunitas, dan replikasi praktik baik juga menjadi fokus penting.
Indonesia harus melihat bencana akhir 2025 sebagai koreksi mendasar terhadap sistem pendidikan. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat pemulihan dan pembentukan karakter. Integrasi kesadaran bencana, fleksibilitas kurikulum, dan pemberdayaan guru menjadi kunci utama dalam membangun pendidikan yang tangguh dan adaptif. Pendidikan harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah ketika krisis melanda. Dengan cara ini, generasi yang dilahirkan dari sistem pendidikan yang tangguh akan mampu menghadapi ketidakpastian masa depan dengan penuh ketangguhan.

