Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyampaikan analisis terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di sekitar angka 5%. Meskipun Bank Indonesia telah melakukan lima kali penurunan suku bunga acuan (BI-Rate) pada tahun 2025, namun dampak positifnya masih terbatas. Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto, membandingkan tren penurunan BI-Rate antara 2024 dan 2025. Pada 2024, kebijakan suku bunga BI cenderung stabil dengan BI-Rate tetap di 6%, sementara pada 2025, kebijakan ekspansif diterapkan dengan menurunkan BI-Rate hingga mencapai 4,75% saat ini.
Meskipun terjadi penurunan BI rate sebanyak lima kali selama tahun 2025, pertumbuhan ekonomi belum memperlihatkan peningkatan signifikan. Indef mencatat bahwa masalah sektor riil yang kompleks dan imbal hasil surat utang pemerintah serta SRBI menjadi faktor penyebab utama stagnasi pertumbuhan. Kurangnya keselarasan antara target pertumbuhan dan target pertumbuhan kredit juga menjadi perhatian serius, dimana target kredit yang hanya 8%-12% dianggap tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 6% seperti yang diharapkan pemerintah.
Eko menyoroti pentingnya pertumbuhan kredit yang harus dua kali lipat dari pertumbuhan saat ini untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Dia menekankan bahwa sektor perbankan harus lebih agresif dalam menyalurkan kredit agar terjadi peningkatan signifikan di sektor riil dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Data menunjukkan bahwa 70% likuiditas Indonesia masih ditentukan oleh sektor perbankan, sehingga kunci pertumbuhan ekonomi berada pada bagaimana kecepatan penyaluran kredit oleh bank. Dalam konteks ini, realistisnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun-tahun mendatang diprediksi akan tetap sekitar 5% jika target kredit tidak mencapai tingkat pertumbuhan yang diperlukan.

