Laporan terbaru dari lembaga independen OpenSignal mengungkap perbedaan performa layanan 5G antar operator di Indonesia. Telkomsel mencatatkan nilai tertinggi dalam sejumlah indikator seperti pengalaman video, kecepatan unduh dan unggah 5G, serta konsistensi kualitas jaringan. Selain itu, Telkomsel juga menduduki posisi teratas dalam kategori Coverage Experience dan Availability Experience 5G. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas 5G tidak hanya bergantung pada ekspansi jaringan, tetapi juga faktor teknis yang mendasar seperti kepemilikan spektrum frekuensi yang memadai.
Menurut Ian Yosef Matheus Edward, dosen STEI ITB, lebar dan kontinuitas spektrum menjadi kunci penting dalam teknologi seluler. Operator dengan spektrum yang lebih luas dan terintegrasi kontinu akan memberikan pengalaman 5G yang lebih optimal. Dukungan infrastruktur backbone yang kuat juga merupakan faktor penting dalam konsistensi pengalaman pengguna. Hasil-hasil pengukuran dari lembaga independen seperti OpenSignal sering mencerminkan kombinasi faktor-faktor tersebut.
Meskipun demikian, penetrasi 5G di Indonesia masih terbatas dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia. Faktor-faktor seperti keterbatasan spektrum 5G, harga perangkat yang belum terjangkau sepenuhnya, dan model bisnis yang masih berkembang menjadi penghambat. Ian menyarankan agar setiap operator memiliki alokasi sekitar 100 MHz spektrum untuk layanan 5G yang optimal. Namun, dengan 50 MHz yang kontinu di pita TDD, layanan 5G sudah dapat berjalan dengan baik.
Sebagian operator masih mengoptimalkan spektrum yang digunakan untuk 4G, sehingga implementasi 5G berjalan berdampingan dengan jaringan generasi sebelumnya. Ian menekankan pentingnya kebijakan pengelolaan spektrum yang tidak hanya meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga mendorong investasi jaringan yang berkelanjutan dan akses yang merata. Dengan manajemen spektrum yang tepat, diharapkan masyarakat dapat merasakan layanan yang lebih baik dan pertumbuhan ekonomi digital yang lebih kuat.

