Presiden Prabowo Subianto membuka pintu dialog dengan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah, termasuk Iran, sebagai langkah untuk mempromosikan perdamaian di wilayah tersebut. Prabowo menunjukkan sikap ini dalam pertemuan silaturahmi dengan para kiai dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Kepresidenan Jakarta. Diskusi juga fokus pada situasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memperpanjang ketegangan regional.
Menyadari pentingnya diplomasi, Prabowo diharapkan akan melakukan langkah-langkah mediasi langsung dengan Iran. Nusron Wahid, Menteri Agraria dan Tata Ruang, mengungkapkan bahwa Presiden ingin menjalin kontak dengan Iran sebagai langkah awal mediasi, dengan dukungan dari negara-negara di Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya. Prabowo, bersama dengan pemimpin negara lain, memiliki tujuan yang sama untuk mencegah eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum Nahdlatul Ulama, memandang langkah Prabowo sebagai tindakan serius dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui diplomasi. Dia percaya bahwa posisi Indonesia diakui oleh pihak-pihak yang berselisih sehingga dapat membuka peluang komunikasi yang lebih luas dalam proses mediasi. Dengan semangat perdamaian, Prabowo diharapkan dapat berperan sebagai mediator untuk memfasilitasi dialog antara berbagai pihak konflik yang terlibat.

