Kunjungan Donald Trump ke Kerajaan Inggris (White House) tengah dalam ketidakpastian menyusul rencana kunjungan kenegaraan Raja Charles III ke Amerika Serikat yang dijadwalkan pada bulan April. Upaya Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, untuk memenangkan hati Trump melalui diplomasi “karpet merah” tampaknya tidak berjalan mulus. Meskipun Starmer awalnya terlihat antusias dalam menyampaikan undangan kunjungan kenegaraan dari Raja Charles ke Trump, namun kedekatan itu cepat berakhir setelah Inggris menolak memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer AS di Iran.
Trump kemudian mulai melancarkan kritik terhadap Inggris dan Starmer, menyebut bahwa Inggris bukanlah “sekutu kelas satu” seperti Winston Churchill. Kritik dari Gedung Putih menghadap ke London memunculkan desakan agar kunjungan Raja Charles ditunda demi menghindari risiko mempermalukan monarki. Meskipun Trump secara terbuka mengatakan bahwa ia menantikan kedatangan Raja Charles, namun ada ketidakpastian apakah kunjungan tersebut akan berlanjut mengingat potensi perselisihan pendapat antara keduanya.
Para politisi di London mulai khawatir, dengan desakan agar pemerintah mempertimbangkan kembali rencana kunjungan Raja Charles di tengah situasi yang memanas. Keputusan untuk melanjutkan atau membatalkan kunjungan Raja Charles memiliki dampak strategis yang signifikan bagi hubungan Inggris dengan Amerika Serikat. Saat ini, pihak Downing Street masih merahasiakan detail perjalanan sang Raja, sementara tekanan politik di dalam negeri mulai mereda. Kini, tantangan berat ada di pundak Starmer untuk memilih antara mempertahankan martabat monarki atau meraih restu dari Trump.

