Tuesday, April 21, 2026
HomeLainnyaWahdi Azmi: Konservasi Harus Berbasis Kepentingan

Wahdi Azmi: Konservasi Harus Berbasis Kepentingan

Dalam banyak pembicaraan tentang konservasi, perhatian utama kerap tertuju pada perlindungan hutan dan fauna liar. Diskusi biasanya menyoroti populasi satwa yang menurun dan penyusutan habitat, seakan-akan manusia hanya menjadi penonton di pinggir persoalan.

Sudut pandang seperti itu, menurut Wahdi Azmi—dokter hewan dan pegiat konservasi yang puluhan tahun menghadapi konflik antara manusia dan gajah di Sumatera—masih terlalu sempit. Ia menilai bahwa manusia tidak boleh dipisahkan dari dinamika konservasi. Dalam sebuah perbincangan di Leaders Talk Tourism yang mengulas Surat Edaran Ditjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2025, Wahdi menegaskan pentingnya memberi ruang bagi peran manusia secara aktif dalam pelestarian alam.

Ia berujar, “Konservasi hanya akan berhasil jika masyarakat sekitar juga merasakan manfaatnya. Kesejahteraan mereka menentukan keberhasilan jangka panjang upaya konservasi.” Pengalaman lapangan membuktikan bahwa konflik manusia-gajah banyak disebabkan oleh berubahnya bentang alam, tanpa adanya solusi sosial-ekonomi yang kuat di tengah masyarakat.

Peralihan hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman mengecilkan ruang hidup satwa, sekaligus mendesak warga setempat untuk bersaing mendapatkan sumber daya. Akibatnya, pertemuan antara manusia dan hewan liar tidak lagi bisa dihindari. Namun, inti masalah sebenarnya terletak pada cara masyarakat dan pihak terkait menanggapi kondisi tersebut, bukan semata pada konflik itu sendiri.

Selama ini, banyak program konservasi berlandaskan pola proteksi mutlak: menetapkan zona konservasi, mengurangi aktivitas manusia, serta mengandalkan regulasi. Di atas kertas, strategi ini tampak masuk akal, namun realitanya sering memisahkan masyarakat dari kawasan konservasi. Bagi penduduk sekitar, kebijakan tersebut justru berarti keterbatasan akses dan peningkatan ancaman ekonomi maupun konflik dengan satwa.

Akibatnya, konservasi kerap dianggap sebagai hambatan daripada peluang. Wahdi menegaskan bahwa manusia sebenarnya adalah bagian utuh dari ekosistem, sehingga pendekatannya mesti menuju integrasi, bukan sekadar pembatasan.

Integrasi versi Wahdi melampaui sekadar partisipasi simbolis. Ia menyerukan keterpaduan antara upaya konservasi, pembangunan ekonomi lokal, dan peningkatan edukasi masyarakat. Ketiganya perlu berjalan serentak, sebab tanpa sinergi, upaya konservasi hanya akan menjadi aktivitas yang rapuh, gampang terancam, dan terus bergantung pada pengawasan dari luar.

Pendekatan integratif seperti ini tak hanya dibutuhkan di kawasan rawan konflik satwa, tetapi juga relevan di berbagai daerah penyangga ekosistem lain, seperti di Mega Mendung, Bogor. Di kawasan pegunungan yang menjadi ‘paru-paru’ Jabodetabek itu, tekanan ke lahan sangat tinggi akibat alih fungsi untuk permukiman dan usaha. Ini bukan sekedar mengancam hutan, namun juga keberlanjutan air beserta mata pencaharian masyarakat sekitar.

Arista Montana, sebuah kawasan yang dikembangkan lewat kolaborasi dengan Yayasan Paseban di bawah pimpinan Andy Utama, menawarkan pola berbeda. Mereka tidak memisahkan aktivitas warga dari upaya pelestarian alam, melainkan mengintegrasikannya dengan ekonomi lokal. Salah satu contohnya adalah pertanian organik komunitas, yang melibatkan petani sejak tahap awal hingga pemasaran.

Para petani dibekali pengetahuan praktik pertanian berkelanjutan yang menjaga kualitas tanah dan air, sehingga pelestarian lingkungan menjadi nadi ekonomi mereka sehari-hari. Dalam sistem semacam ini, kepedulian ekologis dan kepentingan ekonomi berjalan berdampingan secara alami. Kesehatan ekosistem langsung berpengaruh pada hasil dan kesejahteraan petani setempat.

Posisi konservasi pun mengalami pergeseran: bukan lagi sebagai pembatas, melainkan sebagai landasan utama aktivitas ekonomi dan sosial. Namun, upaya ini membutuhkan penguatan kapasitas masyarakat. Yayasan Paseban, melalui program pelatihan dan pendidikan, berperan penting membekali warga dengan kemampuan baru, mulai dari teknik pertanian ramah lingkungan hingga pemahaman mendalam tentang makna konservasi.

Edukasi yang mereka berikan menitikberatkan pada kemampuan praktis, bukan hanya kesadaran. Dengan demikian, masyarakat mampu mengelola sumber daya alam secara lestari, sekaligus menjadikannya sebagai sumber kesejahteraan. Hasilnya, warga setempat tidak lagi sekadar menjadi sasaran kebijakan konservasi, melainkan pelaku utama yang menjaga hubungan sehat antara manusia dan lingkungan.

Jika kita membandingkan dengan pengalaman Wahdi Azmi di Sumatera, ada benang merah: akar masalah konservasi terletak pada relasi manusia dan bentang alam. Konflik di Sumatera sering terjadi karena ruang hidup manusia dan satwa saling bertabrakan tanpa ada penyatuan ekonomi. Di Mega Mendung, justru potensi konflik bisa ditekan dengan konsolidasi antara pelestarian lingkungan dan ekonomi masyarakat.

Kedua pengalaman ini mengajarkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya berpijak pada luas kawasan yang dijaga, namun lebih pada kekuatan keterhubungan antara warga dan ekosistemnya.

Dari banyak contoh, kegagalan konservasi biasanya terjadi bukan karena buruknya konsep, tetapi karena kekurangan kapasitas masyarakat di tingkat lokal. Banyak komunitas tidak diajak terlibat sejak awal, tidak diberi pelatihan maupun akses ekonomi, lalu tidak memperoleh manfaat yang nyata.

Sebaliknya, ketika masyarakat benar-benar terlibat dan diberi kemampuan serta peluang ekonomi, konservasi berubah bentuk: yang tadinya cenderung memaksa dan kontrol dari atas, menjadi upaya kolektif yang tumbuh dari kebutuhan bersama. Inilah kunci agar konservasi dapat bertahan secara alami, tidak sekadar mengandalkan pengawasan yang terbatas.

Di tengah gelombang pembangunan yang terus melaju, model-model integratif seperti Arista Montana dan pengalaman Wahdi Azmi jadi makin relevan. Indonesia bukan hanya butuh area konservasi yang luas, namun yang terpenting adalah sistem yang menyatukan kebutuhan ekologis dan ekonomi masyarakat.

Kini, konservasi tak bisa lagi dipandang sebagai wilayah terpisah dari urusan ekonomi dan sosial. Justru pelestarian alam, penguatan kapasitas, dan peningkatan akses ekonomi harus terjalin dalam jaringan yang memajukan keduanya.

Jika tidak, upaya konservasi hanya akan berjalan di tempat, terjebak dalam posisi bertahan menghadapi tekanan pembangunan. Sebaliknya, jika ketiga pilar—konservasi, ekonomi, dan edukasi—dapat benar-benar dipadukan, perlindungan alam justru bisa menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal maupun nasional.

Pada akhirnya, seperti dikatakan Wahdi, pertanyaan terbesarnya bukan cuma ‘bagaimana kita menjaga alam’, melainkan juga ‘apakah manusia punya alasan nyata untuk ikut terlibat dalam penjagaan itu’. Konservasi yang berhasil hanya tercapai jika masyarakat dapat merasa menjadi bagian dari solusi dan ikut mendapatkan manfaat nyata dari keberadaannya.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi

RELATED ARTICLES

Terpopuler