Keputusan pemerintah untuk membatalkan rencana pembelajaran jarak jauh pada April 2026 disambut sebagai langkah yang tepat dalam menghadapi penurunan kualitas pendidikan. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyatakan bahwa kebijakan PJJ sebelumnya bukanlah langkah yang bijaksana untuk mengatasi isu efisiensi energi. Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, mengungkapkan bahwa efisiensi energi seharusnya tidak berdampak pada sektor-sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan. Ia menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka lebih efektif terutama menjelang tes kemampuan akademik bagi siswa kelas 6 SD dan kelas 7 SMP. Selain itu, PJJ selama pandemi Covid-19 juga mengakibatkan penurunan kualitas pendidikan dan kemampuan dasar siswa, seperti literasi, numerasi, dan sains. Menurut Satriwan, tantangan bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah saat ini adalah memulihkan learning loss dan meningkatkan kualitas pendidikan agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk mengintegrasikan coding dan kecerdasan buatan dalam kurikulum.

