Departemen Pertahanan Amerika Serikat sedang mengkaji skenario serangan darat ke Iran dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan peningkatan pengerahan personel AS ke Timur Tengah. Meskipun keputusan terakhir mengenai operasi darat tetap di tangan Presiden Donald Trump. Menurut laporan Washington Post, skenario tersebut terlihat sebagai poin awal dari fase baru konflik yang potensial bagi pasukan AS, jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Meskipun tidak akan termasuk invasi penuh, operasi yang dipertimbangkan melibatkan penyergapan oleh personel operasi khusus dan infanteri.
Terkait operasi ini, personel AS akan terpapar ancaman langsung dari drone, rudal, tembakan darat, dan peledak rakitan. Pentagon bertanggung jawab untuk menyusun persiapan guna memberikan opsi terbaik kepada Panglima Tertinggi, meskipun hal ini tidak berarti Presiden telah mengambil keputusan. Beberapa skenario yang disusun antara lain opsirasi terhadap Pulau Kharg, tempat ekspor minyak vital bagi Iran, dan operasi penyergapan di sekitar Selat Hormuz untuk mengatasi potensi ancaman maritim.
Meskipun Trump sebelumnya menegaskan bahwa ia tidak akan mengirimkan pasukan ke Iran, Menteri Luar Negeri Marco Rubio yakin bahwa perang dengan Iran tidak akan berlangsung lama karena tujuan tertentu dapat dicapai tanpa perlu intervensi pasukan darat. Namun, sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa sejak pecahnya konflik di kawasan Teluk pada akhir Februari 2026, sebanyak 13 personel militer AS tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam serangan berbagai serangan.
Tanggapan masyarakat mengenai kemungkinan serangan darat ke Iran terbagi, di mana mayoritas responden menentang tindakan tersebut, sementara hanya sebagian kecil yang mendukungnya. Para pakar militer juga mengingatkan akan risiko yang akan dihadapi apabila pasukan darat dikerahkan ke Iran, khususnya terkait dengan ancaman drone yang dimiliki Iran. Di tengah eskalasi ketegangan di kawasan Teluk, serangan balasan dari Iran juga telah menyebabkan kerugian jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar dan penerbangan global tanpa jaminan terjadinya perlindungan bagi pasukan yang bergerak ke sana.

