Bursa kripto Grinex, yang terkena sanksi terkait dengan Rusia, mengumumkan penangguhan operasinya setelah serangan siber yang menyebabkan pencurian aset senilai 1 miliar rubel atau sekitar USD 13,10 juta. Grinex, yang berbasis di Kyrgystan tetapi memiliki kaitan dengan Rusia, sebelumnya telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa. Menurut pernyataan yang diposting di saluran Telegram-nya, bursa tersebut menuduh “badan intelijen asing” dari negara-negara yang tidak bersahabat terlibat dalam serangan tersebut, meskipun klaim ini belum dapat diverifikasi oleh Reuters. Serangan tersebut diduga dilakukan dengan tujuan menyebabkan kerugian langsung terhadap kedaulatan keuangan Rusia.
AS juga menegaskan bahwa Grinex membantu pelanggan menghindari sanksi melalui stablecoin berbasis rubel Rusia yang dikenal dengan nama A7A5. Rusia sendiri, yang telah terputus dari sistem perbankan internasional SWIFT sebagai bagian dari sanksi Barat, telah mengembangkan infrastruktur kripto yang canggih untuk memfasilitasi perdagangan luar negerinya.
Disclaimer: Pembaca diingatkan bahwa setiap keputusan investasi bersifat pribadi. Sebaiknya selalu melalui proses pembelajaran dan analisis sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas hasil keuntungan atau kerugian yang mungkin timbul dari keputusan investasi.

