Industri penerbangan menghadapi tantangan berat seiring dengan kenaikan harga bahan bakar jet (avtur) di awal tahun 2026. Konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi pasokan minyak global menjadi faktor utama bagi maskapai besar seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines (SIA), dan maskapai berbiaya rendah (LCC) untuk menaikkan harga tiket guna menutupi biaya operasional yang terus meningkat.
Cathay Pacific dari Hong Kong secara resmi meningkatkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) sebesar 34 persen mulai 1 April 2026. Kenaikan ini terjadi akibat harga rata-rata bahan bakar jet dunia yang meningkat tajam menjadi US$197 per barel, lebih dari dua kali lipat dari bulan sebelumnya. Sementara itu, Singapore Airlines (SIA) dan anak perusahaannya, Scoot, juga telah menaikkan tarif di seluruh jaringan penerbangan mereka, dengan biaya bahan bakar menjadi komponen biaya terbesar sekitar 30 persen dari total pengeluaran grup.
Analis penerbangan mengungkapkan bahwa wilayah Asia sangat terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar jet karena sebagian besar minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia. Kondisi ini semakin diperparah dengan standar kualitas avtur yang ketat, membuat manajemen cadangan menjadi lebih sulit.
Selain menaikkan tarif, beberapa maskapai penerbangan juga mulai mengambil langkah-langkah drastis dengan menangguhkan rute penerbangan tertentu. Misalnya, Cathay Pacific memperpanjang penangguhan penerbangan ke Dubai dan Riyadh, sementara SIA membatalkan penerbangan ke Dubai hingga akhir April. Maskapai berbiaya rendah seperti AirAsia X dan Cebu Pacific juga mulai menyesuaikan tarif sebagai respons sementara terhadap kenaikan harga bahan bakar jet.

