Candi Prambanan Memperketat Sistem Mitigasi 20 Tahun Setelah Gempa
DUA dekade setelah gempa bumi tektonik yang mengguncang Yogyakarta, pengelola Candi Prambanan memperketat sistem mitigasi. Termasuk mengimbau para pelancong untuk memperhatikan regulasi khusus, karena kompleks pusaka budaya ini berdiri tepat di atas jalur sesar opak aktif. Langkah ini demi kelestarian struktur bangunan kuno tersebut.
Pemulihan Pasca Gempa
Bencana alam 20 tahun lalu diketahui meninggalkan kerusakan yang sangat parah pada kompleks percandian. Di antaranya keruntuhan pada batuan penyusun utama, terutama menimpa bangunan Candi Siwa yang memicu kerusakan struktural serius pada bagian atap hingga menyebabkan tubuh candi menjadi miring.
Pengelola Candi Prambanan membuat sistem penyaringan ketat untuk arus kunjungan wisatawan guna menjaga aspek perawatan sekaligus keamanan spiritual dan fisik cagar budaya. Pembatasan jumlah pengunjung dilakukan untuk menjaga ketahanan struktur batu candi yang terus di makan usia.
Penyuluhan Bencana
Pengelola juga menggelar acara apel kesiapsiagaan bencana di dalam kawasan Candi Prambanan. Mereka telah bekerjasama dengan sejumlah pihak untuk pelatihan tanggap darurat yang menyasar sekolah menengah atas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebanyak 1.000 pelajar SMA telah terlibat dalam edukasi ketangguhan menghadapi bencana selama periode Januari hingga Mei 2026.
Di samping pemeliharaan struktur fisik, PT TWC juga memiliki unit respons cepat kemanusiaan, Tim Gurila, yang bertujuan membantu memulihkan kondisi psikologis dan fisik korban bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Pembatasan jumlah pengunjung ke Candi Prambanan serta penyebaran ilmu tanggap bencana di kalangan pelajar menjadi langkah konkret dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.

