Peringatan Keras PBB terhadap Rencana Israel di Jalur Gaza
Pada Jumat (29/5/2026), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras terkait rencana Israel untuk memperluas kontrol militernya hingga mencakup 70 persen wilayah Jalur Gaza. Langkah ini diyakini bisa meningkatkan penderitaan anak-anak di tengah kondisi ekstrem yang mereka hadapi.
Ekspansi Kontrol Militer Israel
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menginstruksikan militer untuk mengambil alih lebih banyak wilayah di kantong Palestina tersebut. Hal ini dianggap melanggar gencatan senjata yang telah diberlakukan sejak Oktober lalu. Sebelumnya, wilayah yang dikuasai militer Israel adalah 50 persen, lalu naik menjadi 60 persen, dan sekarang Netanyahu memerintahkan untuk mencapai 70 persen.
Krisis Kesehatan yang Memperdalam
Badan anak-anak PBB, UNICEF, mengingatkan bahwa rencana ekspansi wilayah ini akan semakin memperdalam krisis kesehatan di Gaza. Anak-anak di sana mengalami kekurangan makanan, air bersih, dan sanitasi yang memprihatinkan. Dengan kondisi yang hancur akibat perang, anak-anak Gaza terpaksa tinggal di lahan yang tersisa hanya 40 persennya, di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan limbah padat.
Ancaman Hama dan Penyakit
Kutu, tungau, dan kudis menjadi masalah umum di tempat pengungsian, dan laporan tentang serangan tikus yang menyebabkan gigitan kepada anak-anak dan bayi semakin meningkat. Infeksi bakteri juga menimbulkan luka serius pada tubuh anak-anak di Gaza.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras langkah Israel ini sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza yang diakui PBB mencatat lebih dari 900 orang tewas dalam gelombang kekerasan terbaru, dengan total lebih dari 72.800 warga Palestina tewas sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.
Juru bicara UNICEF, Salim Oweis, mengingatkan bahwa ekspansi Israel ini akan memutus akses bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang pada akhirnya akan menyebabkan lebih banyak penderitaan bagi anak-anak di sana. Saat ini, fasilitas kesehatan di Gaza tidak mampu menangani lonjakan pasien anak akibat konflik. (AFP/I-2)

