Di tengah ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung, Strategy, perusahaan pemegang bitcoin (BTC), menghadapi tekanan untuk menjaga harga saham STRC dan MSTR tetap stabil. Hal ini disampaikan oleh Head of Research Grayscale, Zach Pandl, yang menyebut bahwa Strategy perlu bantuan pembeli lain agar harga bitcoin tidak terus merosot.
Penjualan Bitcoin oleh Strategy
Pekan ini, Strategy melakukan penjualan 32 bitcoin senilai US$ 2,5 juta atau sekitar Rp 45,22 miliar dengan harga rata-rata US$ 77.135 atau Rp 1,39 miliar. Meskipun penjualan ini relatif kecil dan tidak signifikan secara total kepemilikan, namun Pandl menegaskan bahwa perubahan dalam manajemen keuangan perusahaan dapat mempengaruhi sentimen pasar yang sudah tidak stabil.
Dampak Volatilitas terhadap Saham STRC
Volatilitas pasar tidak hanya memengaruhi harga bitcoin, tetapi juga saham preferen dengan suku bunga variabel milik Strategy, Stretch (STRC). Saat ini, saham STRC diperdagangkan mendekati US$ 100 atau sekitar Rp 1,8 miliar dan membayar dividen 11,5%. Level harga saham di bawah ambang tersebut dapat meningkatkan kewajiban dividen perusahaan, yang dapat dipenuhi dengan penyesuaian pembayaran namun dengan biaya tekanan arus kas yang lebih tinggi yang terkait dengan aset bitcoin yang dimiliki.
Dalam gambaran besar, model bisnis Strategy yang menggunakan leverage menghadapi tekanan dan meningkatkan volatilitas pasar secara keseluruhan. Strategy, yang biasanya merupakan pembeli bersih BTC, kemungkinan akan kesulitan untuk mengakumulasi lebih banyak token dengan harga saham yang ada.

