Pemkab Banyumas Uji Coba Skema Insentif Tukar Sampah Plastik dengan Sembako
Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sedang melakukan uji coba skema insentif baru untuk pengelolaan sampah plastik. Program ini melibatkan pertukaran sampah yang sudah dipilah dengan sembako, voucher makanan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Tujuan dari program ini adalah untuk mengubah perilaku masyarakat sekaligus mengurangi pencemaran plastik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu.
Program ini diluncurkan di Balai Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, dengan meresmikan dashboard digital dan memberikan alat timbang kepada Bank Sampah Mandirancan dan Bank Sampah Jitu pada hari Selasa, 21 Juli. Kedua bank sampah ini menjadi lokasi percontohan pelaksanaan program di kawasan DAS Serayu.
Kolaborasi dengan Konsorsium SOLUSI
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemkab Banyumas dengan Konsorsium SOLUSI yang terdiri dari GIZ Indonesia, Landscape Alliance, Yayasan KEHATI, dan SNV Indonesia, bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dukungan juga diterima dari Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Banyumas.
Kepala BAPPERIDA Kabupaten Banyumas, Dedy Noerhasan, menyatakan bahwa skema insentif ini sebagai bagian dari upaya integrasi pembangunan daerah dengan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Dengan insentif ini, diharapkan partisipasi masyarakat, terutama di DAS Serayu, dapat meningkat sehingga volume sampah plastik yang mencemari lingkungan dapat berkurang.
Perubahan Perilaku Berdasarkan Studi SNV
Program ini didasarkan pada hasil studi perubahan perilaku yang dilakukan oleh SNV pada tahun 2025 di Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Bangka Belitung. Studi tersebut mengidentifikasi beberapa permasalahan seperti layanan persampahan yang terbatas, minimnya sarana pendukung konsep reduce, reuse, recycle (3R), rendahnya kapasitas pengelolaan sampah di tingkat masyarakat, dan tingginya penggunaan plastik sekali pakai.
Di Kabupaten Banyumas, permasalahan tersebut masih sering ditemui di wilayah pedesaan sepanjang DAS Serayu. Hal ini menyebabkan sebagian warga masih membuang sampah plastik ke sungai atau membakarnya. Sungai Serayu merupakan salah satu sungai utama di Jawa Tengah yang bermuara ke Samudra Hindia, sehingga pengelolaan sampah sejak tingkat rumah tangga dianggap sangat penting.
Program Manager SOLUSI di SNV, Audrie Siahainenia, menjelaskan bahwa skema insentif ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Masyarakat yang bergabung dalam program ini tidak hanya akan mendapatkan manfaat ekonomi, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga kebersihan sungai dan pesisir.
Skema insentif tersebut didukung oleh sistem pencatatan digital bank sampah, pelatihan bagi pengelola, kompetisi pengumpulan sampah plastik antarnasabah setiap bulan, serta kegiatan bersih sungai guna meningkatkan partisipasi masyarakat.
Program ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha melalui skema Public Private Community Partnership (PPCP). Pemilik CV Javari, Galih, menyatakan minatnya dalam menerapkan skema ini karena aktivitas pertanian organik yang dijalankannya juga menghasilkan limbah yang perlu dikelola dengan bertanggung jawab.
Keberhasilan program ini akan dievaluasi melalui beberapa indikator, termasuk peningkatan jumlah nasabah bank sampah, volume sampah plastik yang berhasil dikumpulkan, retensi nasabah, dan tingkat edukasi yang disebarkan oleh pengelola bank sampah. Dengan demikian, diharapkan program ini dapat mengurangi pencemaran sampah plastik ke badan air, khususnya Sungai Serayu, dan membantu melindungi pesisir selatan Jawa dari dampak negatifnya.

