Asenath dan Nefertiti.(Youtube Salam Media)
Pernikahan Yuzarsif dengan Asenath
Dalam suatu pertemuan penting di istana, Yuzarsif (Nabi Yusuf) menerima perintah langsung dari Firaun Akhenaten yang akan mengubah jalan hidup pribadinya. Firaun memerintahkan Yuzarsif untuk menikahi Asenath, putri dari Priesthood Eminence Kinis, seorang pendeta monoteis di Kuil Aten. Meskipun awalnya Yuzarsif fokus pada pembangunan lumbung gandum dan urusan negara, Firaun menegaskan bahwa perintah ini harus segera dilaksanakan.
Kerinduan Mendalam pada Nabi Yakub
Yuzarsif juga meratapi perpisahan selama hampir 30 tahun dari ayahnya, Nabi Yakub (Israil). Meskipun jiwanya ingin kembali ke Kanaan setiap saat, tugas menyelamatkan rakyat Mesir dari kelaparan masih menjadi prioritas. Kekhawatirannya jika ayahnya mengetahui kebenaran tentang perlakuan saudara-saudaranya membuatnya tetap merahasiakan kondisinya.
Duka Zulaikha dan Kematian Karimama
Sementara itu, Zulaikha meratapi cintanya pada Yuzarsif dan merasa kecantikannya telah memudar. Kabar kematian Karimama, pelayan setianya, semakin membuat dukanya dalam kehidupan yang mulai penuh kemalangan.
Kematian Karimama menyisakan lubang besar bagi Zulaikha. Di sisi lain, istana mulai terbengkalai dan dihuni laba-laba, menambah derita Zulaikha.
Catatan: Yuzarsif berjanji bahwa keluarganya akan datang ke Mesir sesuai kehendak Tuhan.
Kelahiran Manassa: Penawar Duka Yuzarsif
Setelah menanti dengan kesabaran, Asenath melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Manassa. Yuzarsif menyambut kelahiran putrinya dengan syukur. Ia memerintahkan untuk merayakan kelahiran Manassa dengan mengundang orang miskin di Memphis.
Nubuat Yuzarsif tentang masa kelaparan tujuh tahun pun dimulai ketika Yuzarsif memberikan peringatan pada Firaun Akhenaten.
Nasib Zulaikha yang Memprihatinkan
Zulaikha hidup dalam kemiskinan dan kesedihan. Kehilangan kekayaan, kecantikan, dan penglihatan yang kabur membuatnya tidak dikenali. Meski dalam kondisi terpuruk, cinta dan kerinduannya pada Yuzarsif tetap menyala.
Kini, Mesir dipimpin oleh Yuzarsif yang sangat berhati-hati, bahkan menolak untuk makan hingga kenyang agar tidak melupakan penderitaan rakyatnya yang merasakan dampak kelaparan yang panjang.

