Saturday, September 5, 2026
HomeLainnyaDokumentasi dan Pengetahuan Jadi Fokus Baru Paseban Foundation

Dokumentasi dan Pengetahuan Jadi Fokus Baru Paseban Foundation

Dalam perjalanannya, Yayasan Paseban semakin menunjukkan komitmennya sebagai jembatan sinergi lintas bidang yang secara aktif memadukan praktik konservasi dengan transfer pengetahuan kepada publik.

Momentum ini terasa jelas dalam acara tahunan Yayasan Paseban 2026 yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional sekaligus menjadi perayaan dua tahun berdirinya organisasi tersebut.

Dengan mengusung tajuk “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve”, forum ini berhasil mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, seperti Kementerian Kehutanan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kedutaan Besar Inggris, lembaga internasional seperti UNESCO, FAO, UNDP, serta perwakilan legislatif, akademisi, pelaku bisnis, organisasi masyarakat sipil, filantropis, tokoh budaya, publik figur, hingga kelompok anak muda.

Pertemuan ini merangkum pemahaman bersama bahwa menjaga kelestarian Bentang Alam Megamendung sebagai inti Cagar Biosfer Cibodas tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Sinergi lintas institusi, komunitas dan sektor mutlak diperlukan.

Yayasan Paseban secara konsisten menumbuhkan harapan keberlanjutan

Andy Utama, sang pendiri dan Pembina Yayasan Paseban, menegaskan penyelenggaraan konservasi mesti didorong oleh ruang terbuka bagi berbagai pihak, agar upaya pelestarian dapat berkesinambungan melintasi generasi.

Menurut Andy, konservasi adalah pekerjaan panjang, yang tidak dapat bergantung pada satu sosok atau satu masa bakti saja. Ia menyebut regenerasi menjadi kunci estafet keberlanjutan misi konservasi.

“Kita semua pada waktunya akan beranjak dari pekerjaan ini. Supaya lahannya tetap terjaga, tanggung jawabnya harus diteruskan ke generasi berikutnya. Diperlukan daya tahan, dan semangat untuk menyalurkan pengetahuan itu,” demikian Andy memaparkan.

Karena alasan tersebut, Yayasan Paseban diarahkan sebagai ruang terbuka yang menghubungkan pemerintah, swasta, institusi global, akademisi, pegiat konservasi, komunitas sampai generasi muda dalam satu jaringan.

Yayasan Paseban pun tidak mengklaim dirinya sebagai pusat aktivitas konservasi. Sebaliknya, mereka ingin hadir sebagai fasilitator, memungkinkan berbagai entitas membawa peran, keahlian dan sumber dayanya agar upaya perlindungan bentang alam menjadi optimal.

Keterlibatan langsung di lapangan

Pengalaman lapangan menjadi fondasi dalam membangun peran Yayasan Paseban sebagai simpul jaringan konservasi. Berbagai kegiatan konservasi in-situ mereka jalankan, seperti pemulihan ekosistem, perlindungan habitat, dan penanaman lebih dari 21.000 pohon lokal di kawasan Megamendung.

Selain itu, upaya konservasi ex-situ juga digencarkan lewat penangkaran burung dan mamalia secara nonkomersial yang berhasil menghasilkan keturunan rusa.

Untuk memantau status keanekaragaman hayati di wilayah kerja, dilaksanakan survei biodiversitas, observasi langsung, hingga pemasangan kamera jebak oleh tim konservasi.

Berdasarkan penjelasan Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Yayasan Paseban, pemantauan yang dilakukan menunjukkan masih adanya lima spesies primata endemis Jawa pada sebidang bentang alam yang tidak terlalu besar di Megamendung.

Megamendung akhirnya diakui sebagai habitat penting bagi spesies langka seperti Elang Jawa, Macan Tutul Jawa, dan aneka flora serta satwa khas pegunungan tropis.

“Jawa adalah pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi, sangat didominasi aktivitas manusia. Namun, di Megamendung, lima spesies primata yang masih ada terbukti tetap bertahan,” ujar Wahdi.

Pengetahuan berbasis konservasi sebagai modal bersama

Di luar kerja konservasi langsung, Yayasan Paseban aktif memproses data, hasil pengamatan dan pengalaman di lapangan menjadi pengetahuan yang bisa diakses dan dimanfaatkan oleh berbagai kalangan.

Pengetahuan yang dikembangkan diarahkan untuk mendukung riset, pendidikan, advokasi, penguatan kapasitas, komunikasi publik hingga dasar pengambilan kebijakan.

Menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan Paseban pun menegaskan identitasnya sebagai lembaga pengetahuan. Mereka memperluas dampak dengan menerbitkan buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban”, juga membagikan pengalaman melalui film dokumenter “The Silent Resilience” dan serangkaian pelatihan serta riset biodiversitas.

Survei, penelitian, penulisan buku, produksi film, kegiatan edukasi, dan pengelolaan pengetahuan diposisikan dalam satu ekosistem berbagi informasi yang solid.

Langkah tersebut bertujuan agar temuan lapangan tidak hanya menjadi arsip internal, melainkan mampu menggugah kesadaran publik dan memperkuat jejaring kolaboratif.

Kiprah generasi penerus menjadi tumpuan utama

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan apresiasi terhadap kegigihan Yayasan Paseban dalam menjalankan agenda konservasi.

Menurutnya, data lapangan perlu diproses dan diperbincangkan secara terbuka supaya bisa menjadi referensi bersama bagi masyarakat luas.

Nezar memandang Yayasan Paseban berpotensi besar sebagai poros pertemuan inisiatif dan kekuatan lintas sektor demi mendukung pelestarian kawasan Cagar Biosfer Cibodas.

Dalam kesempatan yang sama, Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan menegaskan pentingnya kolaborasi dan penguatan peran generasi muda agar pelestarian bisa berlangsung jangka panjang.

“Yang sudah senior akan selesai masa tugasnya. Diperlukan generasi muda untuk melanjutkan pekerjaan dalam menjaga lingkungan bagi masa depan bangsa,” tegas Indra.

Sinergi dan kepemimpinan bersama bagi lanskap alam

Penasihat Yayasan Paseban, Wiratno, menyoroti urgensi kolaborasi karena persoalan lanskap alam tidak bisa dibatasi oleh wilayah administratif semata.

Air, hutan, satwa liar, dan manusia terikat dalam satu kesatuan ekosistem. Untuk itu, kata dia, pengelolaan bentang alam butuh kepemimpinan yang mampu menyatukan visi, kewenangan, dan kepentingan.

“Kepemimpinan pada lanskap alam adalah soal menyatukan, bukan hanya memimpin satu organisasi, tapi mengajak banyak pihak menjaga ekosistem yang sama,” paparnya.

Dengan mendorong sinergi lintas sektor, memanfaatkan pengalaman lapangan, serta mengelola pengetahuan secara terbuka, Yayasan Paseban berupaya menciptakan fondasi kelembagaan kokoh untuk melestarikan Bentang Alam Megamendung.

Inisiatif tersebut diharapkan menciptakan kerja konservasi yang berjalan lintas generasi, tidak tergantung individu atau satu program semata, namun mampu bertransformasi melalui kolaborasi dan transfer kepemimpinan secara berkelanjutan.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut

RELATED ARTICLES

Terpopuler