Standard Chartered memperkirakan token ARB milik Arbitrum berpotensi mencapai US$10 pada 2030. Proyeksi tersebut bertumpu pada meningkatnya penggunaan infrastruktur blockchain oleh perusahaan dari sektor keuangan tradisional, dengan Robinhood Chain disebut sebagai salah satu contoh awal yang mulai memengaruhi ekonomi jaringan Arbitrum.
Menurut Kendrick dari Standard Chartered, kehadiran Robinhood Chain telah mengubah ekonomi Arbitrum secara “material”. Perubahan itu berkaitan dengan peluang bertambahnya aktivitas serta pendapatan protokol ketika semakin banyak perusahaan membangun produk berbasis blockchain dengan memanfaatkan infrastruktur Arbitrum.
Robinhood Chain menjadi contoh awal
Standard Chartered menilai perkembangan Robinhood Chain dapat menjadi gambaran mengenai hubungan antara adopsi blockchain oleh perusahaan keuangan tradisional dan kinerja ekonomi Arbitrum. Dalam skenario tersebut, semakin banyak produk yang dibangun di atas jaringan blockchain dapat menciptakan potensi pertumbuhan pendapatan bagi protokol.
Ketergantungan pada adopsi perusahaan menjadi bagian penting dari proyeksi itu. Arbitrum diperkirakan memperoleh manfaat apabila lebih banyak pelaku usaha memilih infrastrukturnya untuk membangun produk berbasis blockchain. Karena itu, arah pertumbuhan pendapatan protokol tidak hanya ditentukan oleh pergerakan pasar aset kripto, tetapi juga oleh keputusan perusahaan dalam menggunakan teknologi tersebut.
Berdasarkan asumsi itu, target US$10 pada 2030 mencerminkan kenaikan sekitar 70 kali lipat dari level ARB saat ini. Angka tersebut merupakan proyeksi Standard Chartered, bukan kepastian pergerakan harga. Bank tersebut menyusun perkiraan dengan mempertimbangkan kemungkinan meluasnya penggunaan blockchain oleh sektor keuangan tradisional.
Dibandingkan dengan Bitcoin dan Ether
Standard Chartered juga membandingkan potensi kinerja Arbitrum dengan Bitcoin dan Ether untuk periode yang sama. Dalam skenario yang digunakan bank tersebut, Arbitrum dinilai berpotensi memberikan kinerja lebih tinggi secara risk-adjusted dibandingkan kedua aset itu.
Namun, peluang tersebut disertai sejumlah syarat. Kendrick menyoroti dua risiko utama yang dapat menghambat pencapaian proyeksi, yakni pertumbuhan tokenisasi aset yang lebih lambat dari perkiraan dan persaingan yang semakin kuat dari jaringan blockchain lain.
Pertumbuhan tokenisasi aset yang tidak sesuai harapan dapat membatasi jumlah perusahaan yang membangun produk berbasis blockchain. Pada saat yang sama, munculnya jaringan pesaing dapat mengurangi kemungkinan perusahaan memilih infrastruktur Arbitrum. Kedua faktor itu berpotensi menekan pertumbuhan pendapatan protokol dan, pada akhirnya, memengaruhi prospek ARB hingga 2030.

