Bitcoin kembali menjadi sasaran kritik ekonom Peter Schiff setelah aset kripto tersebut kehilangan lebih dari separuh nilainya dari rekor tertinggi di atas US$125.000 atau sekitar Rp2,21 miliar yang dicapai pada Oktober. Kini, bitcoin diperdagangkan di kisaran US$60.000 atau sekitar Rp1,06 miliar.
Schiff sebelumnya memperingatkan bahwa ketertinggalan bitcoin merupakan sinyal buruk bagi aksi jual aset berisiko berikutnya. Menurut pandangannya, tekanan terhadap bitcoin berpotensi semakin dalam apabila koreksi pasar tidak lagi terbatas pada saham teknologi, tetapi meluas ke sektor-sektor lain.
Bitcoin Dinilai Lebih Dekat dengan Aset Berisiko
Dasar pandangan Schiff adalah perilaku bitcoin yang dianggap lebih menyerupai aset berisiko dengan beta tinggi, bukan instrumen pelindung nilai. Karena itu, pergerakan bitcoin dinilai sangat rentan terhadap perubahan sentimen di pasar dan pelemahan aset berisiko secara lebih luas.
Penurunan dari level tertinggi di atas US$125.000 ke kisaran US$60.000 menjadi gambaran utama yang mendukung kekhawatiran tersebut. Dalam kerangka yang disampaikan Schiff, penurunan itu belum tentu menjadi titik akhir apabila koreksi pasar berkembang melampaui sektor saham teknologi.
Ia juga memperkirakan potensi penurunan yang jauh lebih besar ketika tekanan jual meluas. Peringatan tersebut menempatkan bitcoin bukan sebagai tempat berlindung ketika pasar bergejolak, melainkan sebagai aset yang dapat ikut tertekan bersama instrumen berisiko lainnya.
Pompliano Melihat Potensi dari Stimulus dan Stablecoin
Anthony Pompliano menyampaikan pandangan berbeda mengenai prospek bitcoin. Pada awal bulan ini, ia menuturkan bahwa langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelontorkan stimulus sebesar US$5.000 dapat mendorong harga bitcoin, emas, dan tanah.
Pompliano merujuk pada pengalaman setelah Undang-Undang CARES pada 2020. Pada periode tersebut, harga bitcoin disebut meningkat dari sekitar US$6.900 atau Rp122,51 juta menjadi sekitar US$29.000 atau Rp514,90 juta pada akhir tahun.
Perbandingan itu digunakan untuk menggambarkan kemungkinan dampak stimulus terhadap sejumlah aset. Namun, Pompliano juga menyoroti sumber kenaikan bitcoin yang terjadi baru-baru ini. Menurut dia, lonjakan tersebut didorong oleh perputaran modal stablecoin di dalam ekosistem kripto, bukan oleh masuknya dana segar dari luar ekosistem.
Ia menilai kondisi itu dapat menjadi pertanda bahwa kenaikan bitcoin masih mungkin berlanjut. Dengan demikian, perbedaan pandangan keduanya terletak pada cara membaca posisi bitcoin: Schiff menekankan kerentanannya sebagai aset berisiko, sedangkan Pompliano melihat stimulus dan perputaran modal stablecoin sebagai faktor yang dapat menopang kenaikan berikutnya.

