Dua ponsel di dalam tas seorang penumpang mengeluarkan asap dan terbakar ketika KRL relasi Rangkasbitung–Tanah Abang berhenti di Stasiun Rawa Buntu, Kamis (17/9/2026) pagi. Salah satu perangkat dilaporkan sedang digunakan sebagai hotspot saat kejadian berlangsung.
Public Relations Manager KAI Commuter Leza Arlan mengatakan insiden itu terjadi sekitar pukul 06.49 WIB. Petugas keamanan yang berjaga di peron mula-mula melihat asap keluar dari sebuah tas yang dibawa penumpang di dalam rangkaian kereta.
Penumpang tersebut kemudian melemparkan tas ke area peron. Petugas segera mengamankannya dan mendapati dua unit ponsel di dalam tas berada dalam kondisi terbakar. Pengguna Commuter Line juga dibantu keluar dari rangkaian untuk menghindari risiko yang lebih besar.
“Petugas segera membantu pengguna keluar dari dalam Commuter Line dan mengamankan tas berisikan gawai yang mengeluarkan asap. Petugas juga memberikan imbauan kepada penumpang agar tetap tenang dan tidak panik saat keluar dari rangkaian kereta,” kata Leza dalam siaran pers.
Mengapa hotspot dapat memicu panas berlebih?
Penggunaan ponsel sebagai hotspot dapat membuat perangkat bekerja lebih berat dibandingkan pemakaian biasa. Berdasarkan penjelasan Portugal Internet, saat fitur personal hotspot atau tethering diaktifkan, ponsel harus mempertahankan koneksi data seluler ke menara jaringan, sekaligus membuat dan memancarkan jaringan Wi-Fi bagi perangkat lain.
Dalam waktu yang sama, ponsel tetap aktif untuk menjaga koneksi tersebut. Beban kerja berlapis ini membuat perangkat lebih cepat panas dan baterai lebih cepat terkuras. Risiko panas berlebih menjadi lebih besar apabila ponsel disimpan di tempat tertutup, seperti tas, saku, sofa, atau tempat tidur, karena sirkulasi udara dan pelepasan panas terhambat.
Lingkungan yang panas serta paparan sinar matahari langsung juga dapat memperburuk kondisi perangkat. Karena itu, ponsel yang dipakai sebagai hotspot sebaiknya diletakkan di permukaan keras dan terbuka. Jika perangkat mulai terasa panas, casing dapat dilepas untuk membantu pelepasan energi panas.
Aktivitas lain yang bisa membuat ponsel panas
Selain tethering, sejumlah aktivitas dan kondisi lain juga berpotensi menyebabkan ponsel mengalami overheat. Laman Avast menyebut paparan sinar matahari langsung, beban CPU yang terlalu tinggi, serta terlalu banyak aplikasi yang berjalan sebagai beberapa pemicunya.
Aplikasi yang membutuhkan sumber daya besar, termasuk aplikasi dengan beban grafis berat atau aktivitas terkait metaverse, dapat meningkatkan kerja prosesor. Bermain gim terlalu lama, melakukan streaming video, serta membuka atau menggulir video singkat secara terus-menerus juga dapat menambah beban perangkat.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi baterai dan kabel pengisi daya yang rusak. Keberadaan malware atau virus juga disebut dapat memicu ponsel menjadi terlalu panas. Untuk mengurangi panas saat menggunakan hotspot, pengguna dapat membatasi aktivitas lain yang berjalan bersamaan, terutama menonton atau menggulir video di media sosial.

