Teknologi artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara wisatawan mencari informasi, memilih destinasi, hingga menyelesaikan pemesanan perjalanan. Dalam laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, sebanyak 80 persen wisatawan disebut telah menggunakan perangkat AI sebagai asisten pribadi untuk merencanakan liburan.
Perubahan tersebut memangkas proses yang sebelumnya berlangsung berhari-hari. Pencarian destinasi, pemeriksaan fasilitas ramah muslim, sampai transaksi akhir kini dapat dilakukan dalam hitungan detik melalui bantuan algoritma. Pergeseran ini terlihat kuat di pasar wisata muslim global, terutama di kalangan generasi muda yang terbiasa menggunakan teknologi digital.
Destinasi dituntut mudah dibaca AI
CEO sekaligus Founder CrescentRating dan HalalTrip, Fazal Bahardeen, mengatakan AI mempercepat pengambilan keputusan wisatawan secara signifikan. Menurut dia, kecepatan tersebut membuat pelaku industri harus memastikan informasi mengenai destinasi dan layanan mereka dapat dipahami oleh sistem digital.
Untuk merespons perubahan itu, industri pariwisata mulai menggunakan AI Recommendation Readiness Audit (AIRA). Audit ini ditujukan untuk menguji kejelasan identitas suatu entitas serta kesiapan situs web destinasi agar dapat direkomendasikan secara optimal oleh agen perjalanan berbasis AI.
“Jika tidak bisa dibaca oleh mesin (machine-readable), maka tidak terlihat oleh generasi wisatawan Muslim berikutnya dan tidak direkomendasikan sistem AI,” ujar Bahardeen dalam sesi peluncuran Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang digelar secara daring pada Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut data GMTI 2026, Asia kini menjadi pusat utama perjalanan wisatawan muslim. Kawasan tersebut mencatat hampir 128 juta kunjungan wisatawan muslim global, dengan penetrasi sebesar 20,8 persen. Di tengah volatilitas geopolitik global, perjalanan intra-Asia justru menunjukkan penguatan.
Malaysia menempati posisi teratas dalam peringkat GMTI tahun ini dengan skor 83. Indonesia, Arab Saudi, dan Turki menyusul dengan skor yang sama, yakni 79. Untuk kategori negara non-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Singapura menjadi pemimpin di peringkat ke-11 global dengan skor 73.
AI memperluas pilihan ke hidden gems
Pengaruh AI tidak hanya terlihat pada kecepatan perencanaan perjalanan, tetapi juga pada pilihan destinasi. Kepala Ekonom Mastercard Economics Institute, David Mann, mengatakan pengguna aktif AI memiliki pola belanja yang berbeda dari wisatawan konvensional.
Berdasarkan data pelacakan global, pengguna AI mengalokasikan anggaran lebih besar untuk akomodasi dan perjalanan. Pada saat yang sama, mereka tidak selalu diarahkan ke lokasi wisata populer yang padat. Algoritma justru membantu menemukan destinasi alternatif atau hidden gems.
“Jadi, tidak hanya pergi ke tempat-tempat biasa, tetapi juga menemukan destinasi lain,” kata David. Perubahan minat tersebut turut membantu menyebarkan perputaran ekonomi ke daerah-daerah baru.
Mastercard Economics Institute juga mencatat bahwa perjalanan tetap menjadi prioritas pengeluaran masyarakat meski kondisi ekonomi belum ideal. Wisatawan menjadi lebih selektif, mencari nilai terbaik, dan cenderung memilih perjalanan regional. Dari sisi kapasitas penerbangan, Malaysia mencatat pemulihan yang kuat, sementara Indonesia menunjukkan peningkatan kapasitas kursi hingga akhir tahun.

