Mi instan memang praktis, terjangkau, dan mudah disiapkan ketika waktu memasak terbatas. Namun, kemudahan itu tidak berarti mi instan tepat dijadikan menu harian. Dokter dan ahli gizi mengingatkan, frekuensi konsumsi serta makanan pendamping perlu diperhatikan karena mi instan cenderung tinggi natrium, lemak, dan energi, sementara kandungan serat, vitamin, mineral, serta proteinnya relatif terbatas.
Natrium menjadi perhatian utama
Dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, Juwalita Surapsari, mengatakan mi instan masih boleh dikonsumsi, tetapi tidak setiap hari. Menurut dia, konsumsi mi perlu dilihat bersama makanan lain yang disantap pada hari yang sama.
“Kita boleh-boleh saja mengonsumsi produk ini namun tidak setiap hari dan harus memperhitungkan makanan lainnya,” kata Juwalita kepada ANTARA.
Salah satu komponen yang perlu dicermati adalah garam atau natrium. Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menyebut mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih dari 1.000 miligram dalam satu bungkus. Jumlah tersebut sudah mengambil porsi besar dari batas asupan natrium harian.
Asupan natrium yang terlalu tinggi dan berlangsung terus-menerus menjadi perhatian, terutama bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau kondisi tertentu yang sensitif terhadap natrium. Karena itu, mi instan sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan dengan makanan olahan lain yang juga cenderung tinggi garam, seperti sosis atau bakso.
Perlu dihitung sebagai sumber karbohidrat
Kepala Instalasi Gizi dan Produksi Makanan RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Fitri Hudayani, menjelaskan bahwa mi instan termasuk kelompok makanan pokok. Kelompok ini juga mencakup nasi, roti, bihun, umbi-umbian, dan sereal.
Fitri menyebut satu bungkus mi instan tanpa minyak memiliki nilai gizi yang kurang lebih setara dengan 150 gram nasi. Artinya, orang yang makan mi instan perlu memperhitungkan konsumsi makanan pokok lain agar asupan energi dan karbohidrat tidak berlebihan.
Dengan kandungan gizi yang terbatas, mi instan juga tidak dapat dijadikan satu-satunya sumber makanan. Persoalannya bukan semata-mata soal boleh atau tidak, melainkan bagaimana mi ditempatkan dalam pola makan secara keseluruhan.
Tambahkan sayuran dan sumber protein
Jika ingin mengonsumsi mi instan, masyarakat disarankan tidak menjadikannya satu-satunya komponen dalam satu kali makan. Sayuran seperti sawi, bayam, wortel, atau brokoli dapat ditambahkan untuk melengkapi asupan serat, vitamin, dan mineral.
Sumber protein, antara lain telur, tahu, atau tempe, juga dapat menjadi pelengkap. Dokter spesialis gizi klinik dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), Luciana Sutanto, turut mengingatkan agar jumlah bumbu diperhatikan.
“Jika bumbu yang dimasukkan jumlah atau kadarnya berlebihan … tentu akan menimbulkan masalah kesehatan,” kata Luciana kepada ANTARA.
Luciana menyarankan mi dimasak sesuai petunjuk pada kemasan, lalu dilengkapi sayuran dan sumber protein. Label kandungan gizi pada kemasan juga perlu dibaca, terutama ketika pada hari yang sama seseorang telah mengonsumsi makanan lain yang tinggi garam. Dalam kondisi itu, tambahan makanan tinggi natrium sebaiknya dibatasi.

