Tuesday, February 10, 2026
HomeprabowoPresident Prabowo's Diplomatic Success: IDR 800 Trillion Investment Pledged

President Prabowo’s Diplomatic Success: IDR 800 Trillion Investment Pledged

Presiden Prabowo Subianto berhasil mencapai berbagai hasil positif melalui misi diplomasi ke berbagai negara, menurut Kantor Komunikasi Presiden (KPC). Salah satunya adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan komitmen investasi signifikan dari beberapa negara mitra. Philips J. Vermonte, Ahli Senior di KPC, mengungkapkan bahwa dalam kurang dari setahun sejak Prabowo menjabat, sudah ada 71 MoU dengan 13 negara yang tercapai, bersamaan dengan komitmen investasi hampir mencapai IDR 800 triliun dari empat negara. Ini merupakan upaya membuka akses ke pasar yang sebelumnya tidak menjadi target diplomasi ekonomi Indonesia. Philips menyampaikan hal ini dalam sebuah diskusi publik yang berjudul “Hasil Diplomasi Global Presiden Prabowo” yang diselenggarakan oleh Gerakan Milenial Pecinta Tanah Air (GEMPITA) di Retro Café, Beltway Office Park, Jakarta. Selama acara tersebut, Philips juga menyinggung tentang keanggotaan Indonesia di organisasi internasional BRICS sebagai contoh strategi ekspansi pasar. Dia menekankan bahwa keputusan bergabung dengan BRICS merupakan langkah strategis di tengah ketidakpastian global yang semakin mempersempit ruang untuk diplomasi internasional dan keterlibatan ekonomi. Philips menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS tidak mencerminkan anti-Barat atau anti-Amerika. Menurutnya, BRICS melibatkan tiga ekonomi besar yang menjadi pusat hubungan ekonomi dan diplomasi global: Rusia, China, dan India. Indonesia tetap konsisten dengan sikap non-blok. Diskusi tersebut juga mencatat pencapaian diplomatik nyata, termasuk penurunan tarif impor AS terhadap barang-barang Indonesia dari 32% menjadi 19%. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menyatakan bahwa Indonesia terus mendorong untuk penurunan lebih lanjut. Saat ini, Indonesia memiliki tarif terendah di ASEAN, yaitu 19%. Havas meminta masyarakat untuk tidak terlalu berlebihan atau memperbesar masalah ini. Dia mengingatkan pendengar bahwa keputusan dalam diplomasi perdagangan didorong oleh kepentingan nasional, bukan emosi. Selain itu, Havas menegaskan bahwa kebijakan luar negeri tidak ditentukan oleh rasa iri atau dendam, melainkan berdasarkan kepentingan nasional. Para pihak diharapkan untuk melihat data sebelum membuat kesimpulan, dan tidak terjebak oleh asumsi yang sebentar lebih dari dua minggu, dan diskusi masih berlangsung.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler