Monday, December 8, 2025
HomeTeknologiWaspadai Risiko Curhat ke AI: Pakar SEO Beri Peringatan

Waspadai Risiko Curhat ke AI: Pakar SEO Beri Peringatan

Perkembangan kecerdasan buatan (Al) telah membawa banyak remaja untuk memilih curhat pada chatbot Al seperti ChatGPT daripada membagikan masalah mereka kepada orang tua, teman, atau guru. Meski dianggap sebagai hal yang umum dan tren, para pakar memberikan peringatan bahwa curhat kepada Al memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Dr. Yulina Eva Riany, Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, menyoroti bahwa curhat kepada ChatGPT dapat mengekspos data pribadi remaja dan juga dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial mereka.

Yulina menjelaskan bahwa ketergantungan emosional pada Al dapat menghambat kemampuan remaja dalam mengelola frustrasi, menunggu, atau berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Keterampilan seperti empati, membaca ekspresi wajah, dan komunikasi bisa tereduksi ketika remaja lebih banyak berinteraksi dengan Al daripada manusia. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam mendampingi remaja. Orang tua diminta untuk membangun komunikasi yang terbuka, mendengarkan tanpa menghakimi, serta memberikan pemahaman tentang risiko berbagi data pribadi secara online.

Sementara itu, bagi sekolah, integrasi literasi digital dan emosional dalam kurikulum menjadi hal yang penting. Guru bimbingan konseling (BK) juga perlu memahami fenomena ini agar dapat menawarkan dukungan yang diperlukan kepada remaja. Yulina menyarankan agar sekolah membentuk sistem dukungan sebaya agar remaja merasa nyaman berbagi masalah dengan manusia daripada hanya mengandalkan Al.

Dalam menjawab fenomena remaja yang lebih memilih curhat kepada Al, Yulina menegaskan bahwa pentingnya memperkuat komunikasi sehat dalam keluarga dan sekolah. Ia juga merekomendasikan agar platform Al menerapkan moderasi konten yang ketat, transparansi data, serta mekanisme safeguard otomatis untuk melindungi pengguna dari bahaya. Yulina menegaskan bahwa Al sebaiknya dipandang sebagai alat bantu dan pendamping, bukan sebagai pengganti psikolog atau konselor. Menempatkan hubungan manusia sebagai prioritas utama dalam proses curhat dan konseling tetap menjadi kunci dalam membantu remaja mengatasi masalah mereka.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler