Saturday, March 14, 2026
HomeGaya HidupDampak Psikologis dan Alasan di Balik Lavender Marriage

Dampak Psikologis dan Alasan di Balik Lavender Marriage

Pernikahan biasanya diidentikkan dengan kebahagiaan karena cinta. Namun, bagi sebagian orang tidak semua pernikahan lahir dari cinta. Salah satunya bisa disebabkan karena adanya tekanan sosial atas orientasi seksualnya, sehingga pernikahan dijadikan “jalan aman” untuk menutupi jati dirinya. Fenomena ini dikenal dengan istilah lavender marriage. Istilah lavender marriage merujuk pada sebuah pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang dijalani bukan atas dasar cinta, melainkan sebagai upaya untuk menutupi orientasi seksual yang sebenarnya. Fenomena ini biasanya terjadi ketika salah satu atau kedua pasangan menghadapi tekanan sosial, budaya, agama, maupun ekspektasi keluarga terkait tidak diterimanya orientasi seksual yang mereka miliki, yakni non-heteroseksual (penyuka sesama jenis), seperti homoseksual.

Namun di sisi lain, lavender marriage nyatanya memiliki dampak negatif terhadap kondisi psikologis individu yang menjalaninya. Walaupun lavender marriage ini dianggap sebagai jalan untuk memberikan rasa aman dari berbagai tekanan dalam jangka pendek, tanpa disadari ada dampak jangka panjang yang buruk bagi kesehatan mental pasangan ini. Menyembunyikan jati diri secara terus-menerus akan menyebabkan perasaan yang terisolasi, kesepian, kesedihan, hingga putus asa, sehingga bisa menyebabkan terjadinya stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Terpaksa menyembunyikan jati diri sebenarnya untuk memenuhi ekspektasi sosial, dapat menyebabkan terjadinya konflik identitas atau hilangnya jati diri dan rendahnya harga diri. Hubungan yang didasari tanpa cinta akan membuat kurangnya keintiman dan emosional antar pasangan, yang bisa menyebabkan kekosongan emosional, serta merasa frustasi dan benci terhadap pasangan. Seseorang yang mengalami tekanan ini, akhirnya akan mengalihkan rasa sakitnya kepada hal-hal negatif, seperti banyak minum alkohol, menggunakan narkoba, ataupun hal negatif lainnya yang membantu mereka meredam emosi. Perasaan tertekan melakukan lavender marriage juga bisa menyebabkan individu merasa trauma, yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan gejala yang mirip dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), seperti disosiasi yang merupakan perasaan terpisah dari diri sendiri ataupun lingkungan sekitar, waspada yang berlebih, ataupun mati rasa emosional.

Sebelum akhirnya pasangan non-heteroseksual melakukan lavender marriage, ada beberapa faktor yang mendorong individu memilih pernikahan jenis ini. Faktor-faktor tersebut antara lain karena tekanan sosial dan budaya, menjaga karir dan citra yang telah dibangun, agama dan keyakinan, keinginan untuk berkeluarga, keamanan finansial dan sosial, serta perlindungan diri dari hukum dan sorotan publik. Istilah lavender marriage pertama kali muncul pada awal abad ke-20 di Hollywood karena homoseksualitas dianggap tabu bahkan ilegal di banyak negara. Beberapa selebritas atau tokoh publik yang memiliki non-heteroseksual, memilih pernikahan ini untuk menjaga karier dan citranya, serta menghindari diskriminasi. Namun, pernikahan yang dijalani hanya karena alasan sosial atau karier, umumnya tidak bertahan lama dan berakhir dengan hubungan toxic hingga perceraian.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler