Saya telah memutuskan untuk bergabung sebagai tenaga pengajar di Program Pascasarjana Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga, Jawa Tengah setelah menghabiskan 20 tahun berkeliling di beberapa negara untuk mengajar atau meneliti di beberapa universitas ternama. Keputusan untuk melabuhkan karier di UKSW didasari oleh beberapa faktor, seperti kultur akademik yang akademis, komposisi kampus yang majemuk, dan semangat toleransi agama yang sangat kuat di kampus ini.
Di UKSW, populasi muslim juga signifikan, dengan lebih dari 30% mahasiswa yang beragama Islam. Para dosen muslim juga turut berkontribusi di berbagai fakultas. Semua ini tidak terlepas dari visi pendiri UKSW, Pak Noto, yang menggabungkan nilai-nilai agamis, akademis, dan pluralis dalam lembaga pendidikan ini. Saat ini, di bawah kepemimpinan Bu Intiyas, UKSW terus berkembang dengan berbagai program kreatif yang memungkinkan mahasiswa untuk mengekspresikan bakat mereka melampaui batas-batas konvensional.
Salah satu program akademik menarik di UKSW adalah mata kuliah Islam dan muslim di Indonesia (IMI) yang diambil oleh mahasiswa kristiani. Kelas ini memberikan pemahaman mendalam tentang keislaman dan kemusliman untuk memperluas cakrawala mahasiswa dan menghindari stereotip negatif. Di samping itu, pendirian Center for the Study of Religion and Christian-Muslim Relations di UKSW menjelaskan semangat toleransi dan pluralisme kampus ini.
Hal ini jelas menunjukkan relevansi UKSW dalam konteks dialog antaragama. Dalam sebuah periode di mana inklusivitas dan pengetahuan lintas agama sangat diperlukan, UKSW dapat dijadikan contoh bagi kampus lain di Indonesia dalam menyikapi keberagaman dengan keterbukaan pikiran, toleransi, dan sikap inklusif.

