Chatbot telah menjadi tempat yang nyaman bagi banyak orang untuk berbagi dan mencari informasi termasuk saran kesehatan. Namun, sebuah studi terbaru menemukan bahwa jawaban dari chatbot sering tidak lengkap, menyesatkan, bahkan dapat berbahaya. Studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open ini mengevaluasi chatbot populer seperti ChatGPT, Gemini, Meta Al, DeepSeek, dan Grok untuk melihat bagaimana mereka merespons pertanyaan kesehatan umum dari masyarakat.
Hasil studi menunjukkan bahwa hampir setengah dari respons chatbot dinilai bermasalah. Sekitar 30 persen dari respons chatbot dianggap kurang memberikan konteks yang memadai, sementara 19,6 persen lainnya dianggap sangat bermasalah karena mengandung informasi yang tidak akurat atau menyesatkan. Penulis utama studi, Nicholas Tiller, menyatakan bahwa jawaban dari chatbot sering kali mengikuti kepercayaan pengguna sejak awal. Oleh karena itu, jawaban chatbot bisa menjadi ruang validasi tanpa mempertimbangkan kebenaran informasi yang disampaikan.
Studi tersebut juga menguji topik-topik yang rentan terhadap misinformasi seperti kanker, vaksin, serta klaim tentang teknologi 5G atau penggunaan antiperspiran yang bisa menyebabkan kanker. Meskipun beberapa chatbot memberikan peringatan yang tepat, namun masih ada yang tetap menyertakan informasi yang berisiko. Dengan demikian, penting bagi pengguna untuk tetap waspada dan kritis saat menggunakan chatbot untuk mencari informasi kesehatan.

