Thursday, May 21, 2026
HomeLainnyaAncaman Global Harus Dijawab dengan Ketahanan Bangsa yang Kuat

Ancaman Global Harus Dijawab dengan Ketahanan Bangsa yang Kuat

Meningkatnya wacana mengenai risiko pecahnya perang dunia baru-baru ini menjadi salah satu topik hangat di tengah masyarakat. Baik melalui postingan media sosial maupun dalam perbincangan santai sehari-hari, topik tersebut terus menimbulkan keresahan di berbagai kalangan, khususnya generasi muda yang semakin penasaran atas dampak yang mungkin terjadi.

Kesadaran itulah yang mendorong Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek menyelenggarakan forum IR Youth Talks#1 di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, Universitas Indonesia pada tanggal 21 April 2026. Dengan mengusung tema “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global”, forum ini memberikan ruang dialog terbuka seputar posisi Indonesia di tengah perubahan peta geopolitik dunia.

Diskusi dibuka oleh Anggy Pasaribu, jurnalis yang juga merupakan pendiri “Story of Anggy” dan lulusan HI Universitas Pelita Harapan, yang memperlihatkan kegelisahan banyak pihak terhadap kemungkinan perang dunia. Di hadapan peserta, ia mempertanyakan sejauh mana kekhawatiran terhadap perang dunia tersebut benar-benar relevan atau hanya sekadar kecemasan yang belum tentu beralasan.

Alih-alih mencari jawaban final, Anggy mendorong peserta untuk bersikap kritis melihat konflik global dan tidak mudah termakan isu menakutkan yang kerap tersebar di masyarakat. Ia memperingatkan pentingnya memilah informasi dan menjaga kejernihan berpikir dalam menanggapi perkembangan dunia.

Memperdalam pembahasan, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI menjelaskan bagaimana generasi muda sebaiknya tidak terpaku pada rumor tentang perang dunia. Menurutnya, konsentrasi harus pada upaya memperkuat kesiapan nasional agar tidak mudah goyah bila terjadi turbulensi global yang mendadak. Ia menekankan, tugas utama generasi sekarang adalah memastikan Indonesia selalu siaga menghadapi ancaman apa pun, bukan hanya fokus pada isu perang dunia.

Lemhannas telah mengembangkan metode pemetaan ancaman secara menyeluruh melalui net assessment dan perancangan skenario agar dapat memprediksi serta menanggulangi kerentanan nasional. Berdasarkan kajian mereka, terdapat titik-titik rawan seperti tingginya ketergantungan impor energi dan pangan, serta posisi strategis Indonesia yang berada di jantung rivalitas kekuatan dunia di kawasan Indo-Pasifik.

Aloysius juga menyoroti bahwa segala dinamika global seperti gejolak harga energi dan perubahan pasar internasional memiliki dampak langsung terhadap ketahanan sosial, politik, ekonomi, dan keamanan Indonesia. Di tengah tekanan tersebut, Pancasila disebut sebagai penyangga utama mendukung stabilitas nasional dan menjadi fondasi paling kokoh melindungi keutuhan negara dari pengaruh eksternal.

Ia menyampaikan, kekuatan ideologi bangsa sangat menentukan dalam menjaga persatuan, bahkan lebih penting daripada kekuatan ekonomi atau militer. Jika fondasi ideologis bangsa solid, maka Indonesia tetap kuat walau dihadapkan pada tekanan global yang berat.

Sementara itu, Broto Wardoyo selaku Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia memerikan sudut pandang konseptual terhadap perubahan tata dunia. Ia memandang konflik sekarang bukan semata tanda menuju perang global, tetapi lebih tepat dipahami sebagai fase perubahan pada sistem internasional yang lebih kompleks.

Menurut Broto, “krisis-krisis yang terjadi saling terkoneksi dan menjadikan prediksi arah dunia semakin menantang.” Ia mengingatkan bahwa tantangan bukan sekadar perang, melainkan rangkaian persoalan energi, geopolitik, dan perekonomian dunia yang terjadi secara bersamaan.

Kebijakan Donald Trump juga menjadi isu yang diulas dalam dialog; kebijakannya diakui memberi kontribusi signifikan dalam menciptakan ketidakpastian pada tatanan global. Kondisi lintas negara kini semakin sulit diprediksi oleh para pakar maupun pengambil kebijakan.

Dalam membangun daya tahan negara, Broto menawarkan gagasan resilience-based hedging, yaitu strategi yang memadukan ketahanan domestik serta diplomasi yang fleksibel agar Indonesia mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan global.

Melalui kolaborasi AIHII dengan enam universitas di Jabodetabek, IR Youth Talks telah menjadi ajang bertukar pikiran yang mempertemukan para mahasiswa, akademisi, dan pengambil keputusan dalam satu forum setara. Forum ini juga bertujuan membumikan isu hubungan internasional di kalangan generasi muda antar-kampus, sebagaimana disampaikan Jeanne Francoise dari President University mewakili AIHII.

Jeanne menegaskan pentingnya memperluas akses bagi generasi muda dalam memahami isu dunia, sehingga mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam merespons perubahan besar yang sedang berlangsung.

Di pengujung acara, Anggy kembali menyinggung pentingnya menjaga etika dalam ruang publik. Ia menegaskan, kritik konstruktif adalah bagian penting dari proses demokrasi, namun tetap harus disampaikan dalam suasana dialog yang sehat dan argumentasi yang matang.

Keterlibatan anak muda dalam diskusi isu global, menurut Anggy, sebaiknya dimulai dari kemampuan memahami masalah secara menyeluruh dan mengedepankan cara berpikir reflektif, bukan reaktif. Ia menutup perbincangan dengan penekanan bahwa walaupun tantangan global kian nyata, yang terpenting adalah membangun kesiapan diri dan pengetahuan yang memadai agar generasi muda tak mudah goyah dalam menghadapi setiap perubahan zaman.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko

RELATED ARTICLES

Terpopuler