Gunungan penuh dengan hasil bumi seperti jagung, kacang panjang, terong, wortel, dan cabai, dikirab keliling kampung di barisan terdepan dalam tradisi Bakda Sapi atau Lebaran Sapi di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Sabtu, 28 Maret 2026. Diikuti oleh ratusan warga menggiring sapi, kerbau, dan domba di barisan belakang. Beberapa warga bahkan naik sapi besar, menambah semarak acara.
Tradisi Bakda Sapi atau Lebaran Ketupat adalah perayaan Lebaran pada hari kedelapan bulan Syawal tahun Hijriyah. Nama Bakda Sapi dipilih karena dalam perayaan Lebaran itu, warga membawa hewan ternak mereka, terutama sapi, kambing, atau domba.
Tradisi dimulai dengan kenduri ketupat dihadiri warga di lingkungan RW 4, melibatkan beberapa dukuh seperti Mlambong, Rejosari, Gedongsari, Tegalsari, dan Wonodadi. Warga berkumpul membawa tenongan berisi ketupat dengan sate, opor ayam, hingga sambal goreng. Setelah doa bersama, warga menikmati hidangan secara bersama-sama.
Setelah kenduri ketupat, warga bersiap untuk arak-arakan. Hewan ternak dimandikan dan diberi wewangian sebelum diarak. Kemudian, hewan diberi ketupat sebagai simbol tradisi Syawalan hari kedelapan.
Arak-arakan dimulai dari jalan utama menuju tengah desa, berkeliling kampung. Ada sekitar 200 ekor sapi dan kambing dari RW 4 yang ikut. Meskipun ada ketegangan saat sapi keluar jalur, panitia berhasil mengendalikannya.
Ketua panitia Bakda Sapi RW 4, Marjono, menjelaskan bahwa tradisi ini adalah warisan nenek moyang sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Sapi menjadi kebanggaan warga yang mayoritas peternak.
Warga setempat, Darmanto, menekankan makna kebersamaan dalam tradisi itu. Ia menggambarkan ketupat sebagai simbol rendah hati. Tradisi tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga menarik minat wisatawan untuk datang dan menyaksikan langsung acara ini.

