Wafiq Zuhair: Membangun Jembatan untuk Masyarakat Pelosok
Bagi kebanyakan anak muda, usia dua puluhan seringkali diisi dengan membangun karier, mengejar mimpi, dan menikmati kehidupan perkotaan. Namun, bagi Wafiq Zuhair, pemuda asal Lumajang, usia tersebut dihabiskan dengan membangun jembatan-jembatan penting di berbagai pelosok Indonesia. Mulai dari hutan Aceh hingga desa-desa terpencil, Wafiq telah membangun 11 jembatan untuk membantu masyarakat yang jarang tersentuh oleh pembangunan.
Perjalanan Wafiq sebagai seorang pembangun jembatan tidak dimulai dari rencana besar. Setelah lulus dari jurusan psikologi dan gagal mendapatkan pekerjaan, Wafiq memutuskan untuk mendirikan yayasan dan fokus membantu masyarakat di daerah terpencil.
Misi Mulia di Balik Setiap Jembatan
Salah satu pengalaman yang menginspirasi Wafiq adalah ketika mendengar cerita tentang anak-anak di suatu desa terpencil yang harus berenang setiap hari melintasi sungai untuk pergi ke sekolah. Kondisi ini membawa Wafiq pada kesadaran bahwa masih banyak masyarakat yang harus menghadapi kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan.
Yayasan Sahabat Pedalaman pun didirikan lima tahun lalu sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat di daerah terpencil. Meskipun awalnya merasa sulit untuk membangun jembatan tanpa dukungan dari pejabat atau kekayaan, Wafiq tetap percaya bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.
Bukan Sekadar Infrastruktur Fisik
Bagi Wafiq, membangun jembatan bukan hanya soal infrastruktur fisik semata. Lebih dari itu, setiap jembatan yang dibangun memiliki makna mendalam dalam membuka akses dan harapan bagi masyarakat di pelosok. Dari memperbaiki akses transportasi hingga menjaga ketersediaan air bersih, setiap jembatan yang dibangun memiliki dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Setelah lima tahun membangun jembatan dan menyuarakan hak pendidikan untuk semua orang, Wafiq masih terus melangkah maju. Dengan filosofi sederhana namun kuat, bahwa setiap warga, baik di desa terpencil maupun di kota, berhak mendapatkan akses yang setara. Bagi Wafiq, membangun jembatan adalah langkah konkrit untuk memastikan suara-suara dari pelosok juga terdengar dan didengar.
Sebelas jembatan telah berdiri berkat usaha dan ketekunan Wafiq, namun ia tidak berencana untuk berhenti di sini. Perjalanan panjang yang ia tempuh di dunia pembangunan jembatan masih belum usai, dan semangat untuk terus berbuat kebaikan terus membara.

