Sunday, October 11, 2026
HomeTeknologiChina Tolak Seruan AS Perlambat AI, Rivalitas Makin Tajam

China Tolak Seruan AS Perlambat AI, Rivalitas Makin Tajam

Perselisihan teknologi antara Amerika Serikat dan China kembali mengeras setelah sejumlah eksekutif perusahaan kecerdasan buatan (AI) Amerika menyerukan pengaturan bersama terhadap laju pengembangan teknologi tersebut. Beijing menilai gagasan itu bukan semata-mata agenda keselamatan, melainkan berpotensi menjadi cara baru Washington untuk mempertahankan keunggulan dan menahan kemajuan teknologi China.

Seruan mengatur laju pengembangan AI

Menurut laporan The Washington Post pada Senin, 14 September 2026, Kementerian Luar Negeri China menuduh para eksekutif teknologi Amerika menyebarkan narasi ancaman. Beijing juga menilai seruan tersebut dapat mendorong konfrontasi serta kompetisi yang tidak sehat antara kedua negara.

Gagasan untuk memperlambat atau mengatur tempo pengembangan AI muncul dari kekhawatiran bahwa kemampuan industri dalam mengendalikan teknologi itu tertinggal dari kecepatan peningkatan kemampuannya. Para pendukungnya menginginkan kesepahaman agar perusahaan tidak terus berlomba menciptakan sistem yang semakin kuat tanpa mekanisme pengamanan yang memadai.

CEO Anthropic Dario Amodei menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menyampaikan usulan tersebut. Dalam proposal yang disampaikan pada Sabtu, ia mendorong pembentukan upaya internasional untuk mengatur laju pengembangan AI, termasuk kemungkinan kerja sama antara Amerika Serikat dan China.

Amodei juga mengkritik sistem politik China. Ia memperingatkan bahwa AI dengan kemampuan sangat tinggi dapat disalahgunakan oleh pemerintahan otoriter. Namun, menurutnya, Washington tetap perlu menjajaki kesepakatan dengan Beijing mengenai batas internasional untuk pengembangan dan penggunaan teknologi tersebut.

Beijing melihat pola persaingan strategis

Usulan itu justru memperkuat kecurigaan di China. The Washington Post melaporkan, media pemerintah dan media nasionalis China memandang seruan perlambatan AI sebagai bagian dari strategi Amerika yang lebih luas untuk mempertahankan keunggulan teknologinya sekaligus menghambat pesaing.

Global Times pada Senin menyebut proposal keselamatan AI Amodei sebagai bagian dari pola “Perang Dingin” teknologi. Media nasionalis tersebut menilai pembatasan yang diusulkan bisa dipakai untuk menetapkan aturan global yang lebih menguntungkan perusahaan serta kepentingan strategis Amerika.

Kecurigaan Beijing berkaitan dengan kebijakan Washington dalam beberapa tahun terakhir. Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ekspor chip canggih, peralatan semikonduktor, dan sejumlah perangkat lunak yang diperlukan untuk melatih serta menjalankan model AI berkemampuan tinggi.

Kebijakan itu mulai diterapkan secara agresif pada era pemerintahan Joe Biden dan dilanjutkan oleh pemerintahan Donald Trump. Washington beralasan teknologi komputasi mutakhir dapat digunakan untuk kepentingan militer dan keamanan nasional. Beijing, sebaliknya, memandang kebijakan tersebut sebagai upaya membatasi perkembangan teknologi China.

China memperkuat industri domestik

China merespons pembatasan itu dengan mempercepat pembangunan industri chip dalam negeri dan meningkatkan efisiensi algoritma. Langkah tersebut penting bagi perusahaan-perusahaan China yang harus mengembangkan model AI dengan akses lebih terbatas terhadap prosesor tercanggih buatan perusahaan Amerika.

Meski menghadapi hambatan tersebut, jarak kemampuan AI kedua negara masih relatif tipis dalam sejumlah tolok ukur. Model-model AI China secara konsisten berada sedikit di belakang model terbaru dari Amerika dalam berbagai benchmark industri.

Sejumlah perusahaan teknologi China juga memilih strategi pasar dengan merilis model secara terbuka atau gratis. Model itu dapat digunakan dan dimodifikasi oleh pengembang lain, sehingga turut mempercepat penyebaran teknologi AI buatan China.

Persaingan tersebut membuat AI menjadi lebih dari sekadar isu industri teknologi. Washington dan Beijing sama-sama memandangnya sebagai aset strategis yang berpengaruh terhadap produktivitas ekonomi, pertahanan, keamanan siber, intelijen, dan kekuatan geopolitik dalam beberapa dekade mendatang.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler