Pasar Cihapit di Bandung kini tidak hanya menjadi tempat berbelanja kebutuhan pangan. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar tersebut berkembang menjadi tujuan kuliner yang ramai didatangi warga, terutama untuk mencicipi makanan yang populer di media sosial.
Kepala Pasar Cihapit Perusahaan Umum Daerah Pasar Juara Kota Bandung, Maman Suherman, mengatakan hampir separuh dari 176 kios dan los di pasar itu ditempati pedagang kuliner. “Setiap tahun selalu ada ikon kuliner yang viral di sini,” kata Maman kepada Tempo, Rabu, 3 Juni 2026.
Dari nasi Sunda hingga ramen
Salah satu tujuan utama pengunjung adalah Warung Nasi BU Eha. Rumah makan yang berdiri sejak 1974 itu menyajikan masakan khas Sunda dengan konsep prasmanan. Pengunjung dapat memilih antara lain perkedel jagung dan kentang, gepuk atau empal daging, soto Bandung, urap, bihun goreng, serta tumis pare.
Warung tersebut juga menyediakan beragam pepes, mulai dari pepes tahu, jamur, oncom, ikan peda, ayam, ikan emas, hingga kepala kakap. Pada waktu tertentu, tersedia pula balakutak atau sotong.
Maman menyebut sejumlah kuliner lain yang ikut menarik perhatian pengunjung, seperti bakmi dan ramen, Batagor Karuhun, serta kios Cerita Manis yang menjual bubur manis dan aneka kolak. Pada akhir Mei 2026, ketika libur panjang, antrean pembeli bahkan memadati lorong-lorong pasar yang relatif sempit.
Fatir Muhammad dan Fatina Nur termasuk pengunjung yang datang untuk mencoba Brownies Tjihapit. Sementara itu, Desitasari Riswayana dan Sitarini Satianti, keduanya berusia 25 tahun, menikmati baso di salah satu kios. Mereka sebelumnya telah menyantap roti dan memesan croissant, lalu berencana membeli batagor serta bubur sumsum atau candil.
Desitasari mengatakan suasana Pasar Cihapit berubah dibandingkan kunjungannya beberapa tahun lalu setelah pandemi Covid-19. “Suasananya lumayan berubah apalagi sekarang banyak kios makanan dan lebih ramai, pasarnya juga lebih rapi,” ujarnya.
Ramai kuliner, parkir menjadi kendala
Sitarini, yang tinggal lebih dekat dari pasar, mengaku beberapa kali mampir untuk jajan, termasuk pada Februari lalu. Ia melihat jumlah kios kuliner bertambah dan beberapa usaha baru mulai muncul, seperti penjual brownies.
Meski area makan berbaur dengan pedagang sayuran, daging sapi, ayam, dan ikan, Sitarini tidak merasa terganggu oleh bau. “Mungkin karena pasarnya yang kering tidak becek seperti di tempat lain,” katanya.
Menurut Desitasari dan Sitarini, ruang untuk duduk dan nongkrong di pasar memang lebih terbatas dibandingkan mal. Namun, harga makanan di Pasar Cihapit dinilai lebih terjangkau.
Keramaian itu turut dirasakan Ida Ningsih, pedagang berusia 64 tahun yang berjualan di Pasar Cihapit sejak 1985 untuk meneruskan usaha orang tuanya. Ia menjual tahu, tempe, oncom, baso, mi basah, batagor kering, dan bumbu masakan. Dalam empat tahun terakhir, omzet hariannya tidak hanya berasal dari pelanggan lama, tetapi juga dari pengunjung dan pedagang kuliner yang berbelanja.
Namun, meningkatnya jumlah pengunjung memunculkan persoalan parkir, terutama pada akhir pekan. “Yang suka belanja ke sini suka ngomong susah parkir harus keliling-kelling dulu,” kata Ida. Sebagian pelanggan akhirnya tidak bisa berbelanja langsung dan menggunakan jasa kurir untuk mengantarkan pesanan.
Ida juga mengingatkan bahwa tidak semua usaha kuliner dapat bertahan. Beberapa kios tutup atau berganti penjual, nama, dan menu. “Enggak semua ramai, hanya tertentu yang viral-viral,” ujarnya. Kios penjual soto termasuk yang tutup, sementara penjual mi, ramen, dan kopi masih bertahan.

