Tuesday, October 6, 2026
HomeTeknologiSiapa yang Lebih Dulu Kembali Mencapai Puncak?

Siapa yang Lebih Dulu Kembali Mencapai Puncak?

Persaingan Bitcoin dan Ethereum untuk kembali mencapai level tertingginya masih terbuka, tetapi peluang keduanya sangat bergantung pada kemampuan mempertahankan momentum dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan performa kuartalan, kedua aset kripto tersebut menunjukkan dinamika yang sengit dengan prospek pemulihan yang berbeda.

Bitcoin berpeluang kembali menyentuh US$126.080 atau sekitar Rp2,25 miliar dalam waktu kurang lebih 100 hari apabila mampu menjaga laju pertumbuhan selama 90 hari terakhir. Proyeksi itu bersifat kondisional karena sangat bergantung pada konsistensi pergerakan harga Bitcoin dalam periode berikutnya.

Ethereum memiliki sasaran yang tidak kalah tinggi. Jika lonjakan tajam yang telah dicatatnya dapat dipertahankan, harga aset tersebut berpotensi menembus US$4.950, setara sekitar Rp88,7 juta, dalam rentang waktu yang relatif sama. Dengan demikian, perlombaan menuju level puncak bukan hanya ditentukan oleh besarnya kenaikan yang telah terjadi, tetapi juga oleh kemampuan masing-masing aset mempertahankan kecepatan tersebut.

Konsistensi momentum menjadi penentu

Ethereum memang mencatat kenaikan sebesar 72 persen dalam periode yang singkat. Namun, laju secepat itu dinilai sulit dipertahankan secara terus-menerus. Apabila reli Ethereum mulai melambat, aset tersebut menghadapi perjalanan pemulihan yang lebih berat karena masih terdapat selisih koreksi sebesar 83 persen.

Kondisi itu membuat momentum menjadi faktor penting dalam menentukan aset mana yang lebih dahulu mencapai kembali level puncaknya. Kenaikan besar dapat mempersempit jarak menuju target, tetapi tanpa kesinambungan, keunggulan tersebut berisiko berkurang. Karena itu, performa dalam sekitar 100 hari mendatang akan menjadi bagian penting dari persaingan Bitcoin dan Ethereum.

Bitcoin ditopang narasi fundamental

Bitcoin memiliki dukungan tambahan dari narasi fundamental yang dinilai lebih kuat. Investor makro Jodi Visser menyebut Bitcoin sebagai “transaksi AI paling murni” atau “the purest AI trade”. Pandangan tersebut berpotensi mendorong minat investor institusional untuk terus mengakumulasi aset yang menjadi pemimpin pasar kripto itu.

Selain narasi tersebut, Bitcoin disebut mampu melewati fase crypto winter setelah puncak pada 2025 dengan kondisi yang jauh lebih stabil. Stabilitas itu membuat jarak pemulihan yang perlu ditempuh Bitcoin menjadi lebih pendek. Faktor tersebut menjadi salah satu keunggulan Bitcoin ketika dibandingkan dengan Ethereum yang membutuhkan kesinambungan reli untuk menjaga prospeknya menuju US$4.950.

Pada akhirnya, belum ada kepastian aset mana yang akan lebih dulu kembali ke level puncak. Bitcoin mengandalkan kestabilan serta dukungan narasi fundamental, sementara Ethereum bertumpu pada keberlanjutan lonjakan 72 persennya. Kecepatan sekaligus daya tahan momentum akan menentukan hasil persaingan kedua aset tersebut.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler