Sunday, October 11, 2026
HomeTravelRahasia Kafe Mistis di Bekasi Menarik Banyak Pengunjung

Rahasia Kafe Mistis di Bekasi Menarik Banyak Pengunjung

Barista berpakaian seperti dukun menyambut pengunjung dan menerima pesanan layaknya sedang membuka sesi konsultasi. Namun, alih-alih menakutkan, percakapan itu dipenuhi humor. Pengalaman tersebut menjadi ciri Ngangsu, kafe bernuansa kejawen di tengah perkampungan Kota Bekasi.

Kafe yang beralamat di Jalan Ro’oh No. 96, Bojongsari, Jatiasih, itu menempati area terbuka dari halaman rumah hingga kebun kosong. Dekorasi pocong dan kuntilanak ditempatkan di antara pepohonan serta taman, sementara pencahayaan remang-remang dan hangat membentuk suasana tenang. Dari Stasiun LRT Ciracas, Jakarta Timur, perjalanan menuju lokasi memerlukan waktu sekitar 30 menit.

Berangkat dari keterbatasan modal

Ngangsu didirikan pada Maret 2026 oleh Benedictus Cleo Werdi, Nur Latifah, dan Alvin Guruh Saputra. Mereka memilih konsep yang berakar pada budaya Jawa dan nuansa kejawen untuk menawarkan pengalaman berbeda sekaligus menghadapi persaingan usaha kafe di Bekasi.

“Modal kami sedikit untuk melawan kompetitor yang sudah gede,” kata Cleo pada Kamis, 18 Juni 2026. Kondisi itu mendorong ketiganya mencari gagasan yang belum banyak ditemukan di wilayah tersebut. Inspirasi kemudian datang dari sejumlah tempat di Yogyakarta, terutama Imogiri dan lingkungan keraton yang dinilai kuat dengan atmosfer kejawen.

Menurut Cleo, konsep Ngangsu tidak dimaksudkan sebagai horor yang mengandalkan rasa takut. Fokusnya adalah kedekatan dengan alam dan budaya Jawa. Karena itu, seluruh tempat makan berada di ruang terbuka agar pengunjung dapat menikmati pepohonan, tanaman, dan udara luar.

Pengalaman Cleo sebelumnya ketika membangun Omah Mbah Kung, restoran yang kini telah tutup, turut menjadi bekal pengembangan Ngangsu. Namun, konsep kafe ini dibuat lebih khusus dengan menonjolkan unsur kejawen dan suasana alami.

Mempertahankan cita rasa Jawa

Seluruh menu dikembangkan kembali, bukan sekadar memindahkan sajian dari usaha terdahulu. Ngangsu mempertahankan penggunaan rempah dan rasa manis, termasuk pada ayam bacem, meskipun karakter tersebut dinilai bukan selera utama masyarakat Bekasi.

“Kami enggak mengikuti pasar, tapi berupaya agar pasar yang mengikuti kami,” ujar Cleo. Identitas kuliner Jawa itu dipadukan dengan bentuk gubuk yang terinspirasi rumah-rumah sederhana yang banyak dibangun warga setelah gempa Yogyakarta pada 2006. Cleo menyebut model bangunan tersebut dinilai lebih aman ketika terjadi gempa susulan.

Pengetahuannya tentang rempah diperoleh sejak kecil dari kebiasaan yang ditanamkan orang tua. Cleo tidak memiliki pendidikan formal di bidang tata boga ataupun barista dan mempelajari keterampilan tersebut secara otodidak. Ia mulai mendalami kopi pada 2019 untuk menggabungkan budaya minum kopi dengan kekayaan rempah.

Mengandalkan humor dan interaksi

Alih-alih menjadikan sosok hantu sebagai atraksi utama, Ngangsu mematahkan dugaan pengunjung melalui humor para barista. “Orang datang mikirnya serem. Pas datang ternyata lucu juga,” kata Cleo. Ia menggambarkan pencahayaan kafe sebagai suasana makan malam romantis. “Kami terinspirasi dari candlelight dinner, bukan makan di tengah kuburan.”

Kafe ini tidak menyediakan Wi-Fi dan hanya memiliki sedikit stop kontak listrik. Kebijakan tersebut ditujukan agar pengunjung lebih banyak berbincang daripada sibuk dengan telepon seluler. Bagi Cleo, gimik merupakan bagian dari seni menciptakan pengalaman, tetapi kualitas makanan dan minuman tetap menjadi perhatian. “Walaupun harganya murah, kami selalu memikirkan detail produknya,” ujarnya.

Ketiga pendiri juga tidak menerapkan pembagian kerja yang kaku. Mereka menangani kebutuhan usaha bersama-sama dan berencana mengembangkan Ngangsu secara bertahap sesuai kemampuan tenaga serta biaya.

Anne Wahid, pengunjung yang mengetahui Ngangsu melalui Instagram, mengaku tertarik pada konsep serta harga makanan dan minumannya yang terjangkau. “Kami benar-benar dijamu dengan menyenangkan dari awal sampai akhir dengan konsep konsultasi bersama dukun,” katanya. Pendekatan personal itu memang dipertahankan pengelola dengan mengenali nama, mengajak pengunjung berbincang, dan menjelaskan konsep kafe sebelum pesanan dibuat. “Kami menganggap pelanggan yang datang itu seperti saudara, sudah seperti teman,” ujar Cleo.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler