Sunday, October 11, 2026
HomeTravelRibuan Orang Ikuti Tapa Bisu Mubeng Beteng Keraton Yogya

Ribuan Orang Ikuti Tapa Bisu Mubeng Beteng Keraton Yogya

Ribuan warga berkumpul di kawasan Kagungan Dalem Kemandungan Lor Keraton Yogyakarta, yang dikenal sebagai Keben Yogyakarta, pada Selasa tengah malam, 16 Juni 2026. Mereka mengikuti Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng, ritual tahunan yang digelar abdi dalem Keraton Yogyakarta pada malam 1 Suro.

Peserta mulai berdatangan sejak sekitar pukul 19.00 WIB. Menjelang tengah malam, area di sekitar jalur masuk keraton semakin padat. Sebagian warga duduk di trotoar untuk menunggu dimulainya prosesi, sementara lainnya berkumpul di depan gerbang.

Antusiasme warga membuat gerbang masuk Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti ditutup sejak pukul 21.00 WIB. Masyarakat yang ingin menyaksikan rangkaian awal, termasuk pembacaan Macapat sebelum prosesi Tapa Bisu Mubeng Beteng, telah memenuhi kawasan tersebut.

Prosesi dimulai setelah 12 dentang lonceng

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kusumanegara, mengatakan pelepasan iring-iringan dilakukan tepat tengah malam. Prosesi dimulai setelah lonceng Kemandungan Lor berbunyi 12 kali.

“Setelah lonceng Kemandungan Lor berbunyi sebanyak 12 kali, utusan atau perwakilan Keraton Yogyakarta melepaskan iring-iringan mubeng beteng ini,” kata Kusumanegara, Selasa, 16 Juni 2026.

Rute yang ditempuh berlawanan arah jarum jam dengan panjang sekitar lima kilometer. Peserta berangkat dari Bangsal Pancaniti, kemudian menuju Alun-alun Utara dan bergerak ke barat melewati Kauman. Rombongan melanjutkan perjalanan ke Pojok Beteng Lor-Kulon, menuju Jalan Wahid Hasyim, lalu berjalan ke selatan hingga Pojok Beteng Kidul-Kulon.

Dari kawasan itu, peserta bergerak ke timur menuju Pojok Beteng Timur. Rute kemudian berlanjut ke arah utara melalui Jalan Brigjen Katamso hingga Pojok Beteng Gondomanan. Setelah itu, rombongan menuju Alun-alun Utara, Jalan Pangurakan, dan kembali ke kompleks Keraton Yogyakarta.

Tapa Bisu sebagai ruang refleksi

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Atlas Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengatakan Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda sejak 2015.

Bagian utama ritual ini adalah Tapa Bisu, yakni berjalan mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dalam keheningan. Peserta dilarang berbicara, bercanda, maupun melakukan aktivitas yang dapat mengganggu kekhusyukan selama perjalanan.

Sebelum berjalan, rangkaian acara diawali lantunan tembang Macapat yang berisi kidung pengharapan untuk menyongsong tahun baru. Syair-syair tersebut menjadi bagian dari persiapan batin peserta sebelum memasuki prosesi tanpa suara.

Dalam keheningan itu, peserta melakukan refleksi atas perjalanan hidup selama setahun terakhir, memohon ampunan, serta menyusun harapan baru. Meski diikuti ribuan orang, suasana prosesi tetap berlangsung sunyi dan personal, dengan suara langkah kaki pelan yang terdengar sepanjang perjalanan.

Salah seorang peserta, Amalia, 34 tahun, mengatakan ia mengikuti Mubeng Beteng untuk melakukan refleksi diri sekaligus mengenal budaya Jawa. “Bisa jadi cara untuk merenungi hal-hal yang sudah dilalui sebelumnya, merefleksikan apa yang kurang, apa yang perlu diperbaiki, sekaligus jadi sarana healing yang ringan,” ujarnya.

Selain ritual Mubeng Beteng, Abdi Dalem Keraton Yogyakarta melalui Kawedanan Kridhamardawa juga menggelar Pementasan Wayang Kulit Gedhog atau Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog. Pertunjukan tersebut dibuka untuk umum secara gratis.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler