Tuesday, October 6, 2026
HomeTravelSyarat dan Rute Mubeng Beteng Malam 1 Suro di Yogyakarta

Syarat dan Rute Mubeng Beteng Malam 1 Suro di Yogyakarta

Tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng kembali digelar Keraton Yogyakarta pada Selasa, 16 Juni 2026, bertepatan dengan malam 1 Suro atau Tahun Baru Jawa. Prosesi berjalan kaki dalam keheningan itu terbuka untuk masyarakat umum, tanpa pendaftaran dan biaya.

Rangkaian acara akan dimulai lebih awal dengan pementasan wayang kulit gedhog. Pertunjukan langka tersebut disiapkan sebagai pengantar sebelum peserta mengikuti ritual mengelilingi benteng luar Keraton Yogyakarta pada tengah malam.

Wayang gedhog buka rangkaian acara

Kawedanan Kridhamardawa Keraton Yogyakarta menggelar Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul. Pentas berlangsung pukul 19.00 hingga 23.00 WIB dengan dalang sekaligus pimpinan produksi Cermo Gupito.

Lakon yang dimainkan adalah Jaya Berdangga, cerita yang diangkat dari kisah Panji. Menurut Gupito, lakon tersebut kini sangat jarang dipentaskan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisah itu memuat nilai kesetiaan Raden Panji, perjuangan menghadapi gangguan senopati seberang di Keraton Kediri, serta simbol kesuburan Tanah Jawa melalui tokoh Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Gupito menyebut cerita tersebut memiliki kompleksitas dan kedekatan dengan realitas kehidupan masyarakat Jawa.

“Melalui rangkaian acara ini, masyarakat dapat memaknai pementasan wayang dalam rangka mencari bekal untuk introspeksi diri,” kata Gupito. Ia menilai cerita wayang mengandung banyak falsafah kehidupan yang dapat menjadi bahan perenungan.

Penonton pementasan dapat melanjutkan ke prosesi utama Mubeng Beteng. Setelah pertunjukan berakhir pada pukul 23.00 WIB, mereka dipersilakan berjalan bersama rombongan abdi dalem menuju titik pemberangkatan.

Rute dan ketentuan bagi peserta

Peserta mulai berdatangan di Kagungan Dalem Kamandungan Lor pada pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Pada pukul 21.00–23.00 WIB, acara diisi pembacaan Macapat atau kidung doa di Bangsal Pancaniti. Setelah itu, pembukaan seremonial berlangsung pukul 23.00–23.30 WIB, disusul persiapan pemberangkatan hingga pukul 23.50 WIB.

Rombongan kemudian menempuh rute melingkar dari Kagungan Dalem Kamandungan Lor menuju Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan H Agus Salim, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Suryowijayan, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjend Sutoyo, dan Jalan Brigjen Katamso.

Perjalanan berlanjut melalui Jalan Ibu Ruswa dan Jalan Pekapalan Alun-Alun Utara, sebelum kembali menyusuri Jalan Rotowijayan dan berakhir di Kagungan Dalem Kamandungan Lor.

Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Yogyakarta KRT Kusumanegara mengatakan Mubeng Beteng merupakan inisiatif abdi dalem dan masyarakat untuk mendukung keraton sebagai pusat kebudayaan. “Agenda Mubeng Beteng ini bukan hajad dalem milik Keraton Yogyakarta, tapi inisiatif dari abdi dalem dan masyarakat dalam upaya nyengkuyung (mendukung) keraton sebagai pusat kebudayaan,” ujarnya.

Abdi dalem yang mengikuti prosesi diimbau mengenakan busana peranakan dan kebaya jangkep atau pakaian adat lengkap. Masyarakat umum dapat memakai pakaian bebas yang rapi, sopan, dan nyaman, tetapi diharapkan tidak mengenakan celana pendek.

Panitia juga melarang atribut yang berafiliasi dengan organisasi, komunitas, lembaga, maupun partai politik tertentu. Peserta diminta menjaga ketertiban serta tidak mengotori lingkungan di sepanjang rute.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi memastikan masyarakat dari berbagai lapisan dapat mengikuti ritual tersebut secara spontan. “Kegiatan ini gratis, tidak ada registrasi, bebas tidak dipungut biaya bagi masyarakat umum yang akan mengikutinya,” kata Dian.

Source link

RELATED ARTICLES

Terpopuler