Mi instan tidak menempel di dinding usus atau mengendap selama berhari-hari setelah dimakan. Seperti makanan lain, mi akan melewati lambung, diproses di usus halus, lalu sisa yang tidak diserap bergerak ke usus besar sebelum dikeluarkan sebagai feses.
Usus halus melanjutkan pencernaan sekaligus menyerap sebagian besar zat gizi. Setelah itu, usus besar menyerap air dan membantu membentuk feses. Karena itu, pengaruh mi instan terhadap pencernaan lebih berkaitan dengan komposisi makanan dan pola konsumsi secara keseluruhan, bukan karena mi tertinggal di dalam usus.
Masalah utama: rendah serat
Serat menjadi salah satu aspek penting dalam menilai dampak mi instan terhadap saluran pencernaan. Berbeda dari karbohidrat, protein, dan lemak, serat tidak dicerna dengan cara yang sama. Sebagian jenis serat dapat menambah volume feses sehingga lebih mudah melewati saluran pencernaan.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebutkan bahwa konsumsi makanan berserat yang cukup, disertai asupan cairan memadai, dapat membantu mencegah dan meredakan sembelit. Sebaliknya, pola makan yang rendah atau hampir tidak mengandung serat dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pada orang yang mengalami konstipasi.
Mi instan umumnya bukan sumber serat yang tinggi. Dampaknya menjadi lebih mungkin terasa apabila mi terlalu sering menggantikan sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Dalam situasi tersebut, persoalannya bukan mi instan secara langsung merusak usus, melainkan pola makan yang menjadi kurang beragam dan rendah serat.
Jika konsumsi mi terlalu sering tidak diimbangi cairan dan makanan berserat, feses dapat menjadi lebih keras dan buang air besar kurang lancar. Namun, satu porsi mi instan tidak otomatis menyebabkan sembelit. Pengaruhnya sangat bergantung pada kebiasaan makan secara keseluruhan.
Kaitan dengan mikrobiota usus
Usus dihuni triliunan mikroorganisme yang dikenal sebagai mikrobiota usus. Mikroorganisme ini berinteraksi dengan makanan dan ikut berperan dalam berbagai proses tubuh. Serat dari makanan dapat menjadi sumber makanan bagi sebagian mikroorganisme tersebut.
Menurut penelitian NIDDK, pola makan yang lebih banyak mengandung serat dan makanan minim proses dapat memengaruhi komposisi serta fungsi mikrobiota dibandingkan pola makan rendah serat dan lebih banyak makanan olahan. Artinya, orang yang jarang mengonsumsi sayur, buah, dan sumber serat lain mungkin memberikan lebih sedikit asupan yang dibutuhkan mikrobiota usus.
Sebuah penelitian terhadap 224 perempuan dewasa di Jepang menemukan hubungan antara konsumsi ramen dan keragaman mikrobiota usus. Kelompok dengan konsumsi ramen lebih tinggi memiliki keragaman mikrobiota dan asupan serat yang lebih rendah. Meski demikian, penelitian itu bersifat cross-sectional, sehingga hanya menunjukkan hubungan dan belum membuktikan bahwa ramen secara langsung menyebabkan perubahan mikrobiota.
Mi instan tetap dapat dikonsumsi sesekali
Efek makanan juga dapat berbeda pada orang dengan kondisi pencernaan tertentu. Penelitian terhadap orang dewasa Korea dengan sindrom iritasi usus besar (IBS) menemukan mi instan termasuk makanan yang cukup sering dilaporkan memicu gejala. Temuan tersebut dikaitkan dengan karakteristik mi yang tinggi lemak dan mengandung gluten, tetapi dampaknya tetap perlu dilihat sesuai kondisi masing-masing individu.
Mi instan tidak harus dihindari sepenuhnya. Konsumsinya dapat dilengkapi sayuran dan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, atau tahu. Buah bisa dikonsumsi pada waktu makan yang berbeda untuk membantu memenuhi kebutuhan serat harian.
Yang juga perlu diperhatikan ialah porsi dan frekuensi. Konsumsi sesekali berbeda dengan menjadikan mi instan sebagai menu hampir setiap hari. Jika mi terlalu sering menggantikan makanan kaya serat, kebutuhan sistem pencernaan dan mikrobiota usus mungkin tidak terpenuhi secara optimal.

