Mengeluh dapat menjadi cara untuk meluapkan emosi, menyampaikan perasaan, dan menyadari adanya masalah. Namun, ketika keluhan yang sama terus diulang tanpa upaya memahami situasi atau mencari langkah berikutnya, kebiasaan itu justru dapat memperburuk kondisi diri dan hubungan dengan orang lain.
Psikolog kesehatan klinis di SelfWorks, Kerry Cannity, mengatakan keluhan masih bisa memberi manfaat apabila membantu seseorang mengeluarkan emosi negatif, mengomunikasikan perasaan, serta memulai proses pemecahan masalah. Persoalan muncul ketika mengeluh berubah menjadi respons otomatis terhadap hampir semua hal, mulai dari kemacetan, pekerjaan yang menumpuk, cuaca, hingga konflik dengan orang lain.
Ketika keluhan mengubah cara melihat masalah
Cannity menjelaskan, kebiasaan mengeluh dapat mendorong pikiran untuk semakin berfokus pada sisi negatif. “Jika mengeluh menjadi kebiasaan, hal itu justru dapat mulai mengubah cara kerja otak ke arah pandangan yang lebih negatif,” kata dia.
Perhatian seseorang kemudian lebih mudah tertuju pada hal-hal yang memicu marah, kecewa, takut, atau frustrasi. Masalah yang semula hanya menjadi satu bagian dari hari dapat terasa lebih besar karena terus dipikirkan dan dibicarakan.
Keluhan berulang juga dapat membuat stres seperti muncul kembali. Mengutarakan kekesalan mungkin memberi rasa lega untuk sementara, tetapi rasa frustrasi dapat kembali setiap kali cerita yang sama diulang tanpa ada pergerakan menuju penyelesaian.
Psychology Today membedakan curhat yang membantu seseorang memproses emosi dari kebiasaan mengeluh yang membuat seseorang tetap berada dalam lingkaran pikiran negatif. Keluhan kronis disebut dapat meningkatkan ketegangan mental dan fisik, sekaligus menyulitkan seseorang melihat tindakan yang bisa dilakukan.
Dalam situasi seperti itu, energi lebih banyak tersita untuk membahas apa yang salah daripada memikirkan hal yang masih dapat diperbaiki, diterima, atau dikelola. Kebiasaan tersebut juga dapat menumbuhkan perasaan tidak berdaya dan mengurangi dorongan untuk bertindak.
Dampak terhadap hubungan dan suasana hati
Orang-orang di sekitar juga dapat merasakan dampaknya. Jika hampir setiap percakapan dipenuhi masalah, kemarahan, atau ketidakpuasan, lawan bicara lama-kelamaan bisa merasa lelah. Mary McLaughlin, LCSW, terapis yang berspesialisasi dalam hubungan, mengatakan, “Jika setiap percakapan berubah menjadi ajang mengeluh, lama-kelamaan orang akan enggan melanjutkan percakapan tersebut.”
Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa meluapkan emosi dapat menjadi bagian dari proses menghadapi masalah. Namun, ketika berubah menjadi oversharing yang berlangsung terus-menerus dan tidak memberi ruang bagi orang lain, hubungan bisa ikut terdampak.
Dampak itu tidak hanya dirasakan oleh pendengar. Psychology Today mengutip sejumlah studi yang menunjukkan bahwa mendengarkan keluhan secara terus-menerus dapat memperburuk suasana hati. Orang yang mengeluh pun belum tentu merasa lebih baik setelah menyampaikannya, terutama jika pembicaraan hanya berakhir pada pengulangan frustrasi.
Kondisinya berbeda jika seseorang berbicara kepada orang yang dipercaya dengan tujuan memperoleh dukungan. Dalam situasi tersebut, seseorang dapat merasa dipahami tanpa terus terjebak pada masalah yang sama.
Mengevaluasi keluhan setelah disampaikan
Mengeluh tidak perlu dihapus sepenuhnya karena merupakan bagian normal dari kehidupan dan seseorang tidak harus selalu memendam perasaan yang tidak menyenangkan. Yang penting adalah memperhatikan pola serta tujuan keluhan tersebut.
Cannity menyarankan agar seseorang menilai apakah keluhan membuatnya lebih memahami masalah atau justru semakin tenggelam dalam frustrasi. Terapis Sarah Close juga menyarankan pertanyaan sederhana: apakah setelah mengeluh seseorang merasa lebih dipahami dan memperoleh kejelasan, atau kembali masuk ke lingkaran frustrasi yang sama?
Pertanyaan itu dapat membantu membedakan kebutuhan untuk didengar dari persoalan yang sebenarnya membutuhkan penyelesaian. Dengan begitu, keluhan tidak berhenti sebagai pelampiasan, tetapi dapat menjadi titik awal untuk memahami perasaan dan menentukan langkah selanjutnya.

