WhatsApp memperkenalkan rangkaian kontrol orang tua baru untuk akun remaja. Pengaturan ini memberi orang tua kewenangan lebih besar untuk menentukan siapa yang dapat berinteraksi dengan anak, bagaimana anak menggunakan grup dan Channels, hingga jenis fitur Meta AI yang boleh diakses.
Pengaturan grup, status, dan Channels
Melalui fitur parental control tersebut, orang tua dapat membatasi penggunaan Channels oleh remaja. Mereka juga bisa menentukan status pengguna yang dapat dilihat anak serta memilih siapa saja yang diperbolehkan melihat pembaruan status remaja.
Pengaturan privasi lain mencakup pihak yang dapat menambahkan remaja ke dalam grup dan pengguna yang bisa melihat foto profil mereka. Orang tua juga memiliki opsi untuk menerima notifikasi ketika anak bergabung ke grup baru atau meninggalkan grup yang sebelumnya diikuti.
Notifikasi dapat diatur berdasarkan pertumbuhan jumlah anggota grup. Orang tua bisa memilih untuk menerima pemberitahuan ketika jumlah anggota grup yang diikuti anak mencapai 30, 100, atau 250 orang.
Seluruh pengaturan itu dilindungi PIN yang dibuat oleh orang tua. Karena itu, remaja memerlukan persetujuan orang tua apabila ingin mengubah kontrol yang telah ditetapkan. Orang tua juga dapat menonaktifkan seluruh pengawasan tersebut.
Pilihan konten Meta AI dan perlindungan pesan
Kontrol orang tua juga mencakup preferensi konten untuk Meta AI. Orang tua dapat memilih pengaturan standar 13+ atau opsi yang lebih ketat, yakni “Limited Content”. Pilihan terakhir akan menonaktifkan sejumlah fitur yang menggunakan pemrosesan privat, termasuk incognito chat dan ringkasan pesan.
WhatsApp menegaskan, penerapan kontrol tersebut tidak mengubah perlindungan pada pesan maupun panggilan pribadi. “Kehadiran kontrol orang tua ini tidak mengubah perlindungan terhadap pesan dan panggilan pribadi. Pesan dan panggilan di WhatsApp tetap menggunakan enkripsi end-to-end. Dengan sistem tersebut, isi komunikasi tidak dapat dilihat oleh pihak lain,” kata WhatsApp seperti dilansir TechCrunch, Jumat (2/10/2026).
Untuk mengaktifkannya, pengguna perlu membuka WhatsApp pada ponsel remaja, lalu masuk ke menu Settings atau Pengaturan dan memilih Parental controls atau Kontrol orang tua. Berikutnya, orang tua harus mengonfirmasi tanggal lahir remaja dan mengikuti instruksi untuk menautkan akun WhatsApp mereka. Setelah akun terhubung, orang tua dapat memilih pengaturan yang tersedia dan membuat PIN.
Peluncuran di tengah tekanan terhadap Meta
Fitur ini diluncurkan ketika Meta menghadapi sejumlah gugatan yang menuduh produk media sosial perusahaan berdampak buruk terhadap anak-anak. Para anggota parlemen juga menekan Meta, terutama terkait Instagram, karena dinilai terlambat menghadirkan fitur keselamatan bagi remaja.
Pada Agustus, Meta sepakat membayar denda sebesar 18 miliar dolar AS untuk menyelesaikan gugatan dari 29 negara bagian di Amerika Serikat. Sepanjang tahun ini, perusahaan juga memperkenalkan kontrol konten yang terinspirasi sistem rating film, kontrol orang tua untuk interaksi dengan Meta AI, akun praremaja di WhatsApp, serta peringatan bagi orang tua ketika anak mencari konten terkait tindakan menyakiti diri sendiri di Instagram.
WhatsApp turut merilis Scam Alert, fitur keamanan opsional untuk membantu pengguna mengenali pesan penipuan. Fitur ini menggunakan model machine learning yang berjalan langsung di perangkat setelah pengguna mengaktifkannya dan mengunduh model tersebut.
Model itu kemudian mengklasifikasikan pola atau modus dalam pesan masuk. Jika percakapan dinilai mengandung penipuan, Scam Alert menampilkan peringatan yang tidak terlihat oleh pengirim. Pengguna selanjutnya dapat memilih untuk memblokir, melaporkan, atau tetap melanjutkan percakapan.

